Mari Berjihad

Tepat jam 00.00 tadi saya klik send untuk menyerahkan paper ujian komprehensif tertulis saya. Deadlinenya sih tanggal 19 November kemarin dan saya tidak tahu apakah 00.00 itu termasuk tanggal 19 atau sudah tanggal 20. Kalau sudah masuk tanggal 20 berarti tidak benar bahwa sehari itu 24 jam karena tak ada waktu untuk 24.00. Bingung gak sih, Son?

Bingung gak bingung, itu gak penting dipikirkan, kecuali Anda belum menangkap bahwa waktu itu cuma kategori pemikiran di kepala manusia, sebagaimana garis khatulistiwa.

Untunglah, alamat tujuan klik send tadi bukan sistem komputer yang sudah dikasih jebakan ‘selepas 23.59 untaian bunga-bunga kata di kertas 26 lembar itu ditolak’. Yang saya kirimi adalah manusia pemilik alamat surat elektronik, yang mestinya tahu bahwa 00.00 itu cincailah. Tapi kalau akhirnya nilai saya dipotong, haiya sudah cincailah…

Nah, saya kira itu yang penting direfleksikan. Kata seorang pembimbing rohani: You must not remain in yourself with a sense of bitterness for your misery, not even for a moment, because this is also a self-closure to God, that is, to give importance to what you are, and not to God, who is love!

Itulah yang membuat saya setelah klik send bisa tidur nyenyak dan bangun subuh merayakan maulid Nabi Muhammad.

Oh, jadi cuma mau cerita gitu doang, Rom?
Iya. Habis, mau apa lagi?
Lha hubungannya ma bacaan apaaaaa?

Oh, bacaannya itu tentang Zakheus yang sering rancu dengan Lasarus (#halah). Darinya saya belajar mengenai apa yang tadi disampaikan pembimbing rohani tadi (orang Italia tapi kok bahasanya Inggris): kamu jangan membiarkan diri berkubang dalam kepahitan karena kesusahanmu, sedetik pun, karena itu juga pertanda kamu menutup diri kepada Allah, dengan mementingkan dirimu, bukan mementingkan Allah, yang adalah Cinta.

Setiap pertobatan itu datang dari Allah dan Zakheus tidak berlama-lama dengan kenistaan hidupnya. Seberapapun beratnya kehancuran hidup orang, semakin cepat tobat, semakin cepat berbuah, semakin happy. Piyé, enak zaman happy toh?

Itulah yang saya petik dari perayaan hari ini, kelahiran sosok Nabi yang inspiratif bagi begitu banyak orang. Salah satu kunci penafsiran (selain taqwa dan tawhid, al-nas dan al-mustad’afun, adl dan qist) yang disodorkan oleh pengikut Nabi ini ialah konsep jihad, yang pada dasarnya merupakan praksis dan jalan untuk memahami sesuatu. Orang mesti berjuang serius, juga untuk pengetahuan (tidak malas berpikir) lewat praksis hidup bersama Allah. Tahunya gimana Allah hadir dalam transformasi hidup orang? God does not change the conditions of a people until they change what is in themselves. Begitu tertera dalam surat 13:11.
Zakheus bertobat dan mengubah apa yang ada dalam dirinya.
Kita?

Tuhan, mohon rahmat untuk membuka mata telinga pada kebesaran-Mu. Amin.


SELASA BIASA XXXIII B/2
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
20 November 2018

Why 3,1-6.14-22
Luk 19,1-10

Selasa Biasa XXXIII A/1 2017: Ampun Lagi Bang
Selasa Biasa XXXIII C/2 2016: Seek Ye First
Selasa Biasa XXXIII B/1 2015: Life is Fragile

Selasa Biasa XXXIII A/2 2014: Berjumpa Kristus Ya Mestinya Happy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s