Semoga Meresap

Anda pasti pernah dengar kisah anak yang berdoa supaya Tuhan memindahkan kota Bandung ke Bogor dong? Begitulah iman polos anak yang bisa memindahkan gunung. Ia salah menjawab pertanyaan ujian dan segera setelah sadar kesalahannya ia berdoa begitu. Apa kesalahannya? Pertanyaannya ialah kota mana yang dikenal sebagai kota hujan, tetapi ia menjawab Bandung.

Saya bisa mengerti kalau seorang pemimpin, doktor lulusan Emrik, membawa-bawa Tuhan untuk berharap supaya air hujan bisa meresap ke tanah, tetapi sungguh terlula bahwa ada yang berharap supaya “Jika air hujan meresap ke tanah, insyaallah tidak ada banjir.” O Dio, vieni presto in mio aiuto! (Ya Allah, bersegeralah -datang untuk- menolong aku!)
Di telinga saya itu seperti orang mengerjakan soal matematika bahwa jika dua ditambah dua insyallah empat!
Tiwul: Loh, Romo ki piyé to, dulu mempromosikan kerendahhatian képologis, bukankah dua tambah dua dalam matematika memang tidah harus sama dengan empat?
Saya: Haiya benar, tetapi justru itulah persoalannya. Ini bukan soal matematika, dan banjir itu memang terjadi persis karena air hujan tidak bisa meresap ke tanah.
Tiwul: Loh, kalau banjirnya karena tanggul jebol kok?
Saya: Lha iya memangnya air dari tanggul itu hasil sumbanganmu menimba air dari sumur gitu po?
Tiwul: Bukan, Mo, itu dari air tanah.
Saya: Lha iya, Wul, apa ya air tanah itu asalnya dari penyulingan magma dan air laut yang mbrobos ke gunung gitu po? 😡

Sebetulnya rada malu juga saya karena saya kuliah di kampus almamaternya dan konon dia mendapat gelar manajemen bisnis juga dari kampus yang dikelola teman-teman senior saya di Jepang sana, hiks hiks hiks. Tapi ngapain toh bahas investasi 58% begini? Gak ada hubungannya juga dengan teks bacaan hari ini!

Silakan lihat gambaran tuan yang menginvestasikan (gak sampe’ 58% sih) hartanya kepada sepuluh orang, dan didapatinya ada yang cuma menyimpan hartanya itu. Mungkin dia kemropok, lalu memandatkan supaya mina yang dipercayakan pada orang ini diberikan kepada yang lebih membuahkan hasil. Itu investasi cuma sepuluh persen, gimana kalau 58% ya?

Ada teks yang mengganjal. “Semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka di depan mataku!” Buset, sadis banget! Kayak adegan film Robin Hood (tapi ya anak-anak kok diajak nonton ya😥) bernuansa Perang Salib itu. Sesadis itukah Guru dari Nazareth? Apa dia sedemikian kemropok sehingga memakai ungkapan sadis begitu? Apa tidak kontradiktif dengan ajaran kasihnya?

Entahlah, tetapi kalau dilihat dari konteks keseluruhan, saya kira seteru yang dimaksudkannya bukan orang seperti pemimpin 58% tadi, melainkan kualitas hidup yang membuat tindak-tanduknya seperti pemimpin 58% itu, hahaha… podho bae’ Mo!
Ya beda. Yang satu merujuk kualitas hidup, bukan orangnya. Ha nek orangnya wae banyak (mungkin ya 58% itu). Seteru yang dimaksud Guru itu kiranya adalah sikap penolakan orang terhadap warta gembira Allah, laksana orang memilih dibunuh di depan raja warta gembiranya, mandul, tak berbuah, malah banjir #loh.

Tuhan, semoga warta gembira-Mu sungguh meresap dalam hati kami. Amin.


RABU BIASA XXXIII B/2
Peringatan Wajib SP Maria Dipersembahkan kepada Allah
21 November 2018

Why 4,1-11
Luk 19,11-28

Rabu Biasa XXXIII A/1 2017: Investasi 58%
Rabu Biasa XXXIII C/2 2016: Motivator Busuk
Rabu Biasa XXXIII A/2 2015: Mengumbar Kerapuhan
Rabu Biasa XXXIII B/1 2014: Jangan Mentang-mentang Kristen Ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s