Investasi 58%

Lagi-lagi disodorkan perumpamaan yang mirip dengan yang dibacakan pada hari Minggu lalu (posting God’s Talent), cuma hari ini dipakai kata mina. Poinnya ya sama, bukan soal mengembangkan bakat atau kemampuan orang untuk mainan bola, mainan tenis, atau mainan DPR, eaaa….  Njuk apa dong?

Lihat konteksnya saja ya: cerita itu disampaikan dalam perjalanan menuju Yerusalem, dan pengikut Yesus itu mengira bahwa Kerajaan Allah itu sudah akan segera tiba seiring dengan makin dekatnya Yesus ke Yerusalem. Maklum, Yerusalem kan tempat sentral bagi kultur religius Yahudi. Ceritanya sendiri juga menunjuk pada orang yang pergi untuk dikukuhkan sebagai raja. Sebelum pergi, dia memberi sepuluh mina kepada hamba-hambanya. Untuk apa? Supaya mina itu dijalankan, diinvestasikan, diputar sedemikian sehingga memberikan hasil.

Saya kasih tahu ya, sebetulnya orang-orang tidak suka bahwa si tuan ini dinobatkan sebagai raja mereka. Pulanglah tuan itu, sudah sebagai raja, dan memanggil hamba-hambanya tadi. Jelas, ia murka pada yang adem ayem dan tidak melakukan apa-apa dengan uang yang diberikannya. Padahal, dua hamba yang lain itu berjibaku, mengambil risiko demi mengikuti visi misi tuannya. Risiko apa sih? Ya risiko gagal toh, namanya juga investasi. Meskipun cuma investasi 58% saja, bisa jadi gagal loh, hahaha…. Belum lagi, dua hamba yang menginvestasikan uang tuannya itu pasti tidak disukai orang-orang yang tak mau tuannya jadi raja itu. Apa mau dikata. Raja tetaplah raja dan hamba ketiga tadi dikritik habis karena dia tak mau ambil risiko, tak mau mengikuti visi misi tuannya.

Njuk, apa pembaca zaman sekarang mesti rajin berinvestasi? Lha ya kalau punya sesuatu yang diinvestasikan, mengapa tidak? Terserah mau investasi apa, yang penting klop dengan visi misi tuan tadi. Artinya, poin pokoknya justru adalah visi misi tuan itu dan karena ‘mina’ itu diberikan kepada semua hamba, bagi pembaca zaman now pasti bukan cuma uang atau gelondongan emas atau luasan tanah: ini adalah soal mengembangkan Sabda Allah, mengembangkan iman, yang tak bisa dibuat dengan menyimpannya saja. Mesti ambil risiko!

Kalau begitu, dalam masa penantian atau perjalanan atau peziarahan hidup ini, semua dipanggil untuk memperlakukan iman bukan sebagai deposito yang didiamkan aja nongol sendiri buahnya, melainkan sebagai operating cash flow yang positif sehingga free cash flow terdongkrak [opo maneh kuwi, Mo? Aku ora donk]. Iman yang seperti operating cash flow ini pasti bukan iman yang cuma thenguk-thenguk berpangku tangan. Orang yang beriman mesti berani ambil risiko dengan menaruh harapannya pada subjek yang diimaninya.

Ya Allah, tambahkanlah iman kami supaya hidup semakin lebih hidup. Amin.


HARI RABU BIASA XXXIII A/1
Peringatan Wajib S. Sesilia
22 November 2017

2Mak 7,1.20-31
Luk 19,11-28

Rabu Biasa XXXIII C/2 2016: Motivator Busuk
Rabu Biasa XXXIII B/1 2015: Mengumbar Kerapuhan
Rabu Biasa XXXIII A/2 2014: Jangan Mentang-mentang Kristen Ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s