Belajar Menangis

Ada seribu dua alasan untuk menangis: kaki terlindas ban mobil, pipi ditampar, terlalu banyak membaca tulisan di monitor, diputus pacar, mendapat medali emas olimpiade, dan masih ada 996 alasan lagi yang tak bisa saya sebutkan di sini. Lah, baru seribu satu itu, Mo, jumlahnya. Iya pancen, meskipun sudah kriyap-kriyip saya masih bisa menyelesaikan hitungan sederhana kok. Yang satunya baru akan saya jelaskan di sini.

Barangkali pada wajah Yesus itu juga tecermin wajah orang yang berhadapan dengan aneka ironi kehidupan yang mendera kemanusiaan. Yerusalem, pusat kultur rohani Yahudi, justru bakal hancur karena korupsi kerohanian besar-besaran, lebih dari sekadar 28 milyar atau 2,3 trilyun rupiah. Pagar, yang semestinya jadi pelindung malah makan tanaman yang dipagarinya. Trotoar yang melindungi pedestrian di jalan raya malah dipakai untuk pemotor dan parkir mobil. Orang-orang aboriginal di berbagai negara tergusur oleh pendatang yang hendak membuat percepatan pembangunan. Orang merindukan kemanusiaan utuh tetapi malah meminggirkan kemanusiaan atas nama kemajuan teknologi, dan seterusnya.

Apa karena itu orang bisa nangis? Ya bisa saja toh. Apa dengan nangis njuk masalah selesai? Sama sekali tidak (kecuali masalahnya Anda tidak bisa nangis). Ironi kehidupan sepertinya takkan kunjung usai selagi manusia masih ada, tetapi tak perlulah membuat-buat ironi sehingga kemanusiaan benar-benar dilecehkan, bahkan dengan kekerasan. Menangis pada dirinya tak menyelesaikan masalah, tetapi tangisan yang tulus karena ironi dan tragedi kehidupan bisa jadi menggelorakan orang untuk berjalan ke arah pertobatan, tindakan, keluar dari kecupetan diri sendiri. Apa perlu pelajaran menangis ya?

Ya Tuhan, mohon rahmat air mata atas aneka ironi kehidupan yang kami ciptakan sendiri dan berujung pada tragedi. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXXIII A/1
23 November 2017

1Mak 2,15-29
Luk 19,41-44

Kamis Biasa XXXIII C/2 2016: Kulihat Ibu Pertiwi
Kamis Biasa XXXIII B/1 2015: Rebutan Mainan
Kamis Biasa XXXIII A/2 2014: Terus Aja Pelihara Dendam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s