Dalam dunia kekristenan dikenal Sabda Bahagia yang dilekatkan pada mulut Yesus dari Nazareth. Akan tetapi, ia dan penulis Injil pun bukanlah penemu syair kebijaksanaan dan nubuat kenabian. Tradisi Yahudi dan juga kaum pagan pun sudah akrab dengan syair seperti itu. Yang membedakan ajaran Yesus dari kaum bijak dan nabi sebelumnya ialah bahwa ia mewartakan berkat bagi mereka yang miskin, kelaparan, atau menangis karena sistem sosial yang merenggut martabat kemanusiaan mereka.
Pada intinya, setiap sabda bahagia dimulai dengan bentuk present tense dan beralih ke future tense. Yang pertama menunjukkan bahwa sabda bahagia, atau lebih tepatnya ungkapan berkat, adalah ungkapan tentang praktik baik tentang komunitas Kristen. Maksudnya, ini bukan tentang orang per orang Kristiani yang sudah lemah lembut, berbelas kasih, tulus, dst, melainkan bahwa dalam komunitas itu bisa ditemukan orang-orang yang begitu. Kehadiran dan aktivitas mereka itulah yang jadi tanda berkat Tuhan dan panggilan bagi yang lain untuk semakin membuat sinkron hidup bersama dengan nilai-nilai ungkapan berkat itu.
Yang kedua menolak semua gagasan bahwa agama hanyalah falsafah hidup yang menjamin kesuksesan dan ketenangan hidup sehari-hari. Agama bukan melulu kunci untuk mengurangi stres (malah mungkin bikin stres penganut garis kerasnya). Agama tidak dimaksudkan untuk membentuk badan yang selalu in-shape meskipun melarang gelojoh makan. Agama tidak dibangun untuk memajukan karier seseorang; dalam banyak kasus malah bikin karier seseorang tamat. Agama juga tidak dimaksudkan untuk menangkal penyakit. Bentuk future tense menegaskan agama sebagai cara hidup yang didasarkan pada harapan yang kuat bahwa miskin di hadapan Allah, kelemahlembutan, ketulusan dalam pencarian kebenaran adalah jalan rida Allah yang pada akhirnya akan ‘menang’ dan bahwa masa depan Allah adalah belas kasihan dan bukan kekejaman.
Dengan begitu, Anda dan saya boleh saja bilang bahwa tak ada masalah dengan tambang di mana pun karena sudah sesuai izin dan warga setuju-setuju aja, tetapi bisa jadi lokasi masalahnya tidak ada di wilayah pertambangan. Lokasi masalah itu bisa jadi ada di kepala Anda dan saya yang menghalalkan segala cara untuk membayar hutang negara atau ngemplang kekayaan alam atau pajak rakyat. Di sini, ungkapan berkat tak berlaku meskipun Anda mengajak orang lain untuk selalu bersyukur atas nikmat dari Allah atau memaknai pengangguran sebagai momen mawas diri. Itu bukan lagi ungkapan berkat, melainkan kutuk karena fokusnya bukan lagi rida Allah, melainkan status quo Anda dan saya: yang mesti berubah orang lain, bukan tata kelola buruk saya dan Anda.
Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami dapat menghidupi gaya hidup yang bertumpu pada harapan akan berkat cinta-Mu. Amin.
SENIN MASA BIASA X C/1
PW Maria Bunda Gereja
9 Juni 2025
Senin Biasa X A/1 2017: Masih Ingat Bahagia?
Senin Biasa X B/1 2015: Life is Beautiful
