Kabar baik bin kabar gembira yang pertama-tama disampaikan kepada Bangsa Israel [yang tidak identik dengan Negara Israel yang sudah sejak lama bertengkar dengan tetangga-tetangganya] mestilah disampaikan kepada segala bangsa. Siapa yang mesti menyampaikannya? Dalam teks bacaan utama hari ini disodorkan jawabannya: 72 murid, yang bukan 12 murid yang ditunyuk langsung oleh Yesus dari Nazareth sebagai ring satunya. Siapakah 72 murid itu? Dalam bahasa sekarang itu disebut sebagai awam, orang-orang biasa yang tidak terbilang sebagai anggota hierarki.
Jadi, pesan teksnya cukup jelas: semua saja mesti terlibat mewartakan kabar gembira atau kabar baik. Seseorang menjadi murid sejati bukan karena menyandang nama, badge, almamater, atau ijazah bin piagam inisiasi sekolah, aliran keyakinan, ideologi tertentu, melainkan karena ia menghidupi konten bin nilai bin semangat yang ditanamkan dalam perguruannya. Dalam konteks kekristenan, orang yang dibaptis tak pernah jadi murid sejati sampai dia menjadi seorang rasul.
Sayangnya, untuk menjadi rasul itu, orang tidak bisa mengandalkan potensi individualnya. Untuk membangun masyarakat, sekurang-kurangnya secara biologis diperlukan dua orang, kecuali masyarakat yang anggotanya terdiri dari mereka yang berkemampuan membelah diri. Tak mengherankan Guru dari Nazareth pernah bilang di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaku, aku ada di situ (Mat 18,20). Seorang awam menjadi rasul bukan karena kharisma individualnya, melainkan karena ia mampu menghadirkan kabar gembira dalam relasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Menariknya, penulis teks mengumpamakan tugas perutusan itu menyorongkan para rasul ke tengah-tengah dunia serigala, ke dalam dunia predator, dunia rimba dengan hukum kompetisinya. Jadi, tiada gunalah mengeluh bahwa pemerintah ini mbilung atau oligarki brengsek atau wakil rakyat badut munafik semua. Sudah sejak lama Guru dari Nazareth bilang bahwa para rasul diutus ke rimba serigala, tetapi tidak pernah dimaksudkan supaya para rasul itu menjadi homo homini lupus. Sebaliknya, mereka diutus sebagai homo homini agnellus (Latin, baca anyelus, artinya domba). Dalam konteks manusia, para rasul diutus sebagai homo homini socius (Latin, baca socius, artinya teman, sahabat).
Yang memprihatinkan dalam dunia pendidikan sekarang ini bahwa anak didik dipersiapkan untuk menghadapi dunia persaingan dengan paradigma persaingan lainnya: menjadi kompetitif seperti serigala, bukan kompetitif untuk membawa kabar gembira bagi semakin banyak orang. Anak-anak domba ini bermetamorfosa sebagai anak serigala yang selalu memacu diri untuk bersaing dengan orang lain, bukan untuk mengalahkan dirinya sendiri. Di situ, kabar gembira berubah jadi derita karena orang tak bisa menjadi sahabat bagi yang lain.
Kompetisi pada dirinya tidak jelek, tetapi ketika hanya diorientasikan pada pemuliaan ego, kompetisi menjadi ajang dunia serigala, bukan ajang bagi homo homini socius. Kompetisi anak domba diorientasikan pada kabar gembira supaya semua makhluk berbahagia.
Ya Allah, mohon rahmat kerendahhatian supaya damai-Mu dapat diwartakan sampai ke ujung desa. Amin.
HARI MINGGU BIASA XIV C/1
6 Juli 2025
