Kita membawa begitu banyak kematian dalam diri kita dan kadang kita ingin menyimpannya saja alih-alih menghadapinya, sedemikian rupa sehingga berpikir untuk keluar terasa seperti kegilaan, karena kita tahu betul bahwa kita tidak memiliki kekuatan untuk bereaksi terhadap kejahatan. Alhamdulillah, syukur kepada Allah. Tuhan yang mengasihi kita datang untuk membangkitkan status anak dalam diri kita, membiarkan diri-Nya disentuh supaya kita mengalami keutuhan, dan membuat kita berhenti menyia-nyiakan hidup.
Baik karakter-karakter dalam kisah teks bacaan utama hari ini maupun Anda yang membacanya, bisa jadi, keliru membaca peristiwa yang ditawarkan teks. Para peniup seruling dan orang banyak yang meratapi kematian anak kepala rumah ibadat menertawakan Guru dari Nazareth yang mengatakan bahwa anak itu tidak mati, cuma tidur. Mereka menangkap kata-kata Yesus itu ala anak Jaksel, literally. Akan tetapi, pembaca modern (dan mungkin di situ tempat Anda) juga bisa menangkap kata-kata Yesus itu secara literal: memahaminya sebagai mukjizat yang membuat anak kepala rumah ibadat itu selamat dari pemakaman dini.
Pemakaian kata ‘tidur’ menggantikan ‘mati’ tidak dimaksudkan untuk menyangkal kematian, tetapi mengungkapkan keyakinan komunitas penulisnya. Dengan segala hormat pada keyakinan Anda, dari perspektif penulis teks itu tampaknya Guru dari Nazareth digambarkan sebagai sosok yang tak lagi bergumul dengan kematian karena dia sendiri sudah mengalahkan kematian itu dan bahkan memungkinkan orang yang ‘menyentuh jubahnya’ mengalami transformasi seperti Tomas yang ‘menyentuh lukanya’. Teks mengafirmasi bahwa sentuhan jubah ini bukan sentuhan yang berangkat dari kepercayaan akan takhayul, melainkan sentuhan sebagai wujud iman mereka yang berjuang supaya penyakit sosial tak lagi bertahta, tetapi ditransformasi menjadi kekuatan untuk mengalami hidup yang utuh dalam gerakan bersama.
Mengapa begitu? Karena pada masa itu, juga mungkin pada masa kini di sini, kekuatan ritual begitu mencengkam seakan-akan itulah yang jadi hidup mati orang. Lebih-lebih, dari dunia ritual itu orang bisa menghakimi satu sama lain soal mana benar salah dan dari situ aneka pengucilan, bahkan persekusi, bisa terjadi. Apa gak sia-sia hidup macam begitu?
Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk membangun hidup bersama yang membuat anggotanya dapat mengalami damai dalam keadilan. Amin.
SENIN BIASA XIV C/1
7 Juli 2025
Senin Biasa XIV C/1 2019: Mari Putus Asa
Senin Biasa XIV B/2 2018: Komitmen Hari Gini?
Senin Biasa XIV A/1 2017: Ayo Tidur (Lagi)
Senin Biasa XIV C/2 2016: Iman Penjamin Mutu?
Senin Biasa XIV B/1 2015: Agama Kok Eksklusif
