Air Hidup

Published by

on

Featured image diunduh dari https://jernih.co/potpourri/andrie-yunus-wakil-kontras-diserang-dengan-air-keras/
untuk mengingat kira-kira apa yang terjadi pada mereka yang mengalami perjumpaan dengan sumber air hidup dan terang dunia. Teks bacaan hari ini adalah penggambaran sketsa tentang hal itu, dan tersesatlah ia jika membaca teks ini sebagai reportase Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Tentu ia menyembuhkan orang buta, juga yang sejak lahir buta, tetapi kejadiannya ya gak gitu juga kale’.

Penulis teks menggunakan aneka simbol untuk memberi atribut kepada pribadi Yesus yang berasal dari praktik keagamaan Yahudi: sumber air hidup, terang dunia, Siloam, dll. Saya lebih tertarik untuk melihat bagaimana atau apa yang terjadi pada orang yang mengalami perjumpaan dengan sumber air hidup dan terang dunia ini. Sembari menyimak hal itu, featured image masuk ke benak saya sebagai contoh yang begitu kelihatan.

Pertama, perjumpaan dengan sumber air hidup dan terang dunia terjadi pada mereka yang titik tolak peziarahan hidupnya ada pada kesadaran akan ketidaktahuan; akan tempurungnya yang sempit; akan hidup yang mereka bahkan tidak tahu mau ke mana, mau apa, dan seterusnya. Pokoknya ya asal bisa mempertahankan nafas; itu sudah cukup; asal ikut kebiasaan orang pada umumnya, itu sudah. Sebaliknya, orang yang tidak sadar akan tempurung sempitnya tidak mungkin berjumpa dengan terang dunia dan sumber air hidup karena yakin bahwa mereka sudah tahu segala; tidak ada keselamatan di tempat lain; tidak ada hal yang tidak diketahuinya, dan seterusnya.

Kedua, perjumpaan terjadi pada orang yang punya kesadaran akan identitasnya, tidak bergantung pada apa kata orang. Orang lain boleh memberi kesan dari a zampai z, tetapi pribadi yang mengalami perjumpaan itu tak ragu-ragu pada siapa dirinya: dari yang semula buta, menjadi melek.

Ketiga, pribadi yang mengalami perjumpaan dengan sumber air hidup dan terang dunia itu memiliki keberanian untuk menyatakan kebenaran bahkan di hadapan otoritas religius, yang pada saat itu berkelindan dengan kekuatan politik. Kira-kira, ia bahkan tidak takut sama sekali jika dikeluarkan dari keanggotaan papan perdamaian. Tidak malu untuk mengakui kebutaannya untuk main papan perdamaian itu.

Keempat, pribadi seperti ini tak mudah terintimidasi, tidak berkecil hati karena teror mereka yang sangat berkepentingan dengan status quo kekuasaan, yang hanya bisa melihat kritik sebagai wujud iri hati orang-orang yang kalah atau orang yang tak menikmati kekuasaan.

Kelima, logisnya, pribadi seperti itu juga rela menderita. Pada momen tertentu ia sendirian, tak lagi bersama sosok yang dijumpainya. Bisa jadi saat itu ia tak berjumpa dengan air hidup, tetapi air keras, yang tak dapat menghapus air hidup yang sudah lebih dulu membuka matanya untuk menatap dunia yang begitu keras.

Tuhan, semoga air keras tak membutakan kami dari air hidup-Mu. Amin.  


MINGGU PRAPASKA IV A/2
15 Maret 2026

1Sam 16,1.6-7.10-13
Ef 5,8-14
Yoh 9,1-41

Posting 2023: Identitas
Posting 2020: First Things First
Posting 2017: From Heart with Love

Posting 2014: The Primacy of the Heart
*

No Comment