Analisis Struktural

Analisis struktural merupakan bagian kritik sastra yang mendekati teks untuk menemukan ‘tata bahasa’ sebuah karya sastra (grammar of literature). Seperti analisis naratif, analisis struktural memfokuskan perhatian penuh kepada teks (text-centered), tetapi analisis struktural melepaskan diri dari keterbatasan sudut pandang atau penilaian evaluatif pengarang (baik real author maupun implied author) maupun implied reader. Asumsinya, dunia teks memang melampaui dunia pengarang. Makna dibangun bukan dengan sudut pandang evaluatif pengarang, melainkan dengan mengkaji hubungan internal teks yang menyodorkan suatu makna dalam (deep meaning).

Ada beberapa teoretikus analisis struktural tetapi di sini disodorkan saja analisis struktural menurut A. J. Greimas dan Roland Barthes karena teori merekalah yang secara khusus menerapkan analisis struktural terhadap narasi. Meskipun makna menjadi perhatian, pertanyaan penting dalam analisis struktural bukanlah apa makna teks, melainkan bagaimana makna teks itu dapat muncul. Mereka sangat dipengaruhi oleh distingsi Ferdinand de Saussure mengenai bahasa (langue) dan wacana (parole).

Studi linguistik Saussure menunjukkan adanya interpretasi sinkronis terhadap bahasa yang tidak mengandalkan pengolahan waktu kronologis seperti dalam metode historis. Alih-alih mengkaji evolusi bahasa, Saussure memfokuskan diri pada penelitian terhadap sistem yang membentuk bahasa. Sistem yang dimaksudkan oleh Saussure itu dikaji secara lebih detail oleh Claude Lévi-Strauss dengan upaya pencarian infrastruktur bawah sadar dari fenomen linguistik dan sifat kesalingterhubungan elemen-elemen dalam struktur yang terbangun oleh elemen-elemen tersebut. Lévi-Strauss mengambil fenomena sosial sebagai objek interpretasinya yang kemudian mengantar kajian ilmiah terhadap etnologi. Dengan pengaruh linguistik dan etnologi inilah Roland Barthes dan A. J. Greimas mengusahakan suatu analisis struktural terhadap narasi.

Untuk analisis strukturalnya, Roland Barthes membedakan beberapa level deskriptif: level fungsi, level aktan (actant: fungsi pelaku), dan level narasi. Analisis pada level fungsi mempersoalkan kedudukan teks dalam keseluruhan narasi. Analisis ini dilakukan dalam dua tahap: (1) menganalisis semua detail teks untuk menemukan fungsi bagian (dengan pertanyaan analitis: apa yang akan terjadi jika detail informasi ini tidak ada dalam teks seperti senyatanya ada), dan (2) mencari relasi antara fungsi-fungsi bagian tadi (misalnya bagaimana mereka saling melengkapi). Dari analisis level fungsi ini didapatlah suatu susunan kisah.

Analisis pada level aktan mempersoalkan kedudukan para pelaku dalam kisah, yang oleh V. Propp dikategorikan dalam 31 fungsi. Analisis pada level naratif, seperti analisis naratif, mempertanyakan apa yang dikatakan oleh teks mengenai kisah dalam teks itu sendiri. Di sini, analisis bergumul dengan pengarang dan pembaca tersirat, bukannya pengarang dan pembaca real/historis. Untuk memperoleh makna teks, tiga level analisis itu dipakai sedemikian rupa sehingga ditemukan suatu ‘tata bahasa’ kisah. Ada aturan yang menentukan perkembangan level-level tersebut dan yang tampaknya bersifat hirarkis: fungsi unsur dalam kisah dibentuk kembali pada level aktan yang terikat pada aturan narasi itu sendiri.

Penjelasan pada level deskriptif itu oleh A. J. Greimas dirangkum dalam penelitiannya mengenai struktur pemaknaan yang pada gilirannya menghasilkan tiga poros relasi aktansial atas landasan struktur dasar signifikasi yang disodorkannya. Menurut Greimas, satu term-objek sendiri tidak membawa signifikasi apapun. Signifikasi mengandaikan adanya relasi. Jadi, necessary condition bagi signifikasi adalah adanya relasi antara term-term objek. Mengenai relasi itu sendiri Greimas menyatakan bahwa dua term-objek itu baru dapat ditangkap bersamaan jika memiliki unsur kesamaan tetapi juga unsur perbedaan. Tanpa ada unsur kesamaan dan perbedaan justru tidak dapat muncul relasi. Relasi ini dapat disebut sebagai relasi biner (binary relationship).

Akan tetapi, penelitian Greimas mengantarnya pada dua jenis relasi lain, yaitu relasi antara bagian dan keseluruhan (hyponymic/hyperonimic) dan relasi antara dua elemen yang kategorinya berbeda (hypotactic/hyperotactic). Ini adalah tiga relasi fundamental dalam pemikiran Greimas. Tiga relasi ini dapat dirumuskannya setelah ia mengamati bahwa setiap relasi biner memiliki oposisi binernya juga, sehingga jika kemudian dibuat homologasi, dapat dirumuskan notasi homolog:
homologGreimas mengubah notasi homolog itu dengan segi empat semiotik yang bisa digambarkan begini:

semiotic squareAtas dasar segi empat semiotik itu dan dengan menerapkan fungsi matrix (seperti dalam perhitungan matematika) terhadap fungsi-fungsi pelaku dalam kisah, Greimas mereduksi 31 fungsi yang disusun V. Propp menjadi 20 fungsi saja. Pada gilirannya, 20 fungsi ini ditempatkan dalam tiga poros relasi sintaksis, yaitu poros komunikasi/pengetahuan, kekuatan, dan pencarian. Tiga poros relasi sintaksis itu kemudian bisa digambarkan dengan bagan begini:

Poros 3Perlu diperhatikan arah panah dari ketiga poros, plus perlu dicatat bahwa antara pengirim dan subjek yang mencari objek ada ikatan kontrak yang mendorong subjek terus mencari objek. Selain itu, bisa juga ada antisubjek yang berperan sebagai subjek negatif, bisa diletakkan di atas penghalang dengan panah terarah ke subjek.

Tiga poros relasi sintaksis itu mengimplikasikan relasi semantik. Dengan kata lain, secara struktural, semantik terlekatkan pada relasi itu dan dengan demikian muncullah suatu tata bahasa narasi. Tata bahasa narasi inilah yang nantinya dipakai sebagai peranti untuk melakukan suatu analisis struktural terhadap teks.

Bagaimana analisis struktural dibuat?

Ada dua langkah besar, yaitu melakukan (1) analisis struktural sintaksis dan (2) analisis struktural diskursif/semantik.

Pada tahap pertama, teks disegmentasi menurut perubahan tempat, waktu, adegan, kelompok karakter, kedatangan dan kepergian karakter, atau mungkin juga kalimat-kalimat yang diulang-ulang. Kemudian ditentukan struktur aktansialnya pada setiap segmen (menentukan subjek, objek, dll). Akhirnya bisa dinilai bagaimana teks narasi bergerak, misalnya negatif atau positif (perjuangan jagoannya berhasil atau gagal).

Pada tahap kedua, mesti diteliti secara detil hirarki oposisi dalam teks berdasarkan gerak pencarian subjek kepada objek. Kemudian dilihat manakah transformasi dasariah nilai yang dipertaruhkan dalam kisah. Akhirnya, dirumuskanlah suatu makna semantik yand dapat digali dari kisah dengan mempertimbangkan terutama pada poros pencarian, komunikasi, dan kekuatan.

Wah…runyam juga ya teorinya kalau tidak dipraktikkan. Silakan klik di sini untuk melihat contoh penerapannya.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s