Kesucian Kerja

Published by

on

Biasanya orang menganggap kesucian berhubungan dengan hal-hal rohani. Celakanya, hal-hal rohani itu hanya dihubungkan dengan aktivitas seperti membaca buku doa, devosi, ibadat, novena, rosario, memejamkan mata di depan patung Yesus, berkat dari imam, berpantang dan berpuasa, membungkukkan badan di depan tabernakel, berlutut menyembah salib, menerima Sakramen dengan lidah, dan sejenisnya.

Saya kira itu ada benarnya, tetapi bukan segala-galanya, bahkan mungkin hanya sebagian kecil saja dari kesucian yang sesungguhnya.

Itu saya yakini dengan menilik tindak-tanduk Yesus Kristus sendiri. Kitab Suci jauh lebih sering bicara mengenai pekerjaan Yesus yang dilakukan sesuai dengan ajaran-Nya. Ia menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang lapar, mengusir setan, bahkan membangkitkan orang mati. Relatif sedikit ayat Kitab Suci yang menyinggung soal aktivitas Yesus berdoa.

Bunda Teresa juga kurang lebih sama. Tak banyak reportase mengenai aktivitas doa devotifnya. Sebagai biarawati pastilah ia punya jadwal ibadat bersama maupun doa pribadi, tetapi jelas yang menjadi gambaran inspiratif bagi banyak orang ialah ketekunannya dalam bekerja membantu sesama yang terabaikan. Penentu kesucian bukan kegiatan doanya sendiri, melainkan saluran atau sambungan dari doa ke kerjanya.

Jadi, jika kita mau suci, syaratnya bukan sekadar bahwa kita mesti berdoa, melainkan bahwa kita mesti mewujudkan doa (berapa pun lamanya dan bagaimanapun metodenya) dalam aneka panggilan profesi hidup kita! Apa wujudnya? Kelihatan dari orang yang gembira dalam panggilan tugasnya, kerja keras, bersemangat, penuh gregetspiritoso!

quote-Thomas-A.-Edison-there-is-no-substitute-for-hard-work-854Akan tetapi, gak berlaku sebaliknya! Orang yang bekerja keras belum tentu berdoa! Rupanya kerja keras juga bukan jaminan kesucian orang (wong tidak sedikit orang yang kerja keras karena ditindas atau tergilas sistem kapital). Itulah yang membedakan agama dari LSM, organisasi ekonomi, sosial, budaya, maupun politik. Kerja keras orang suci sambung dengan doanya. Jika tidak, itu seperti tong kosong nyaring bunyinya. Mungkin bunyinya bagus dan mengasyikkan, tapi tanpa isi yang bisa memuaskan batin orang.

 

One response to “Kesucian Kerja”

  1. […] orang bekerja. Ini bisa dimengerti sebagai pemberian makna baru terhadap rutinitas kerja (bdk. kesucian kerja). Bagaimana itu dilakukan? Dengan mengganti objek pencarian: semula mencari ikan, sekarang mencari […]

    Like