98

Teks ini membawa saya pada dua kelebatan peristiwa 98… Yang pertama, sewaktu demo di IKIP Rawamangun, ketika polisi untuk pertama kali menggunakan peluru (karet). Di tengah kocar-kacirnya mahasiswa saya berhasil masuk ke dalam kampus (dan memang mahasiswa digiring ke sana) dengan intaian peluru yang entah akan mengenai siapa, mungkin juga mengenai saya. Di dalam kampus dekat pagar sendiri saya masih melihat beberapa kawan yang tampaknya hendak menyerang polisi di luar pagar teralis besi. Satu mahasiswa yang tak saya kenal terlihat sangat emosional mengambil batu sebesar genggaman tangan dan berlari hendak melemparkan batu itu ke arah polisi dengan pistol. Secepat yang saya mampu, saya melingkarkan tangan kanan dari belakang badannya dan menarik tubuhnya sekuat tenaga saya; ia lebih gemuk dari saya dan terus berusaha maju mendekat ke pagar sambil berteriak. “Temen gua kena… temen gua kena!” Saya membalas teriakannya, “Temen gue juga kena! Ayo mundur!” (belakangan baru saya tahu bahwa memang ada satu teman saya yang terkena peluru)
Pada saat menarik badan mahasiswa gemuk itulah mata saya sempat fokus sebentar pada laras pistol di tangan polisi yang sudah mengarah kepada kami berdua. Seandainya saja itu bukan pistol mainan dan ada pelurunya sungguh dan polisi mendapat legitimasi untuk menarik pelatuknya, dan polisi itu sungguh-sungguh terlatih dan menarik pelatuknya… pilihan peluru itu tinggal dua: kepala mahasiswa gemuk ini atau kepala saya.
Yang kedua di kompleks Atma Jaya, ketika peluru yang dipakai bukan lagi peluru karet, suasana menjadi jauh lebih mengerikan dengan tambahan bom suara yang menggelegar; anything may happen… dan lagi-lagi teman saya juga terkena peluru; dalam hembusan angin beraroma amis darah saya dengar kabar juga beberapa kawan tewas di sana…
Saya tidak sempat merasa marah, perasaan dominan saya lebih berupa ketidakmengertian mengenai apa yang diributkan orang-orang di luar sana: para wakil rakyat, militer, polisi… Bukan bahwa saya tidak tahu bahwa mereka punya kepentingan politis, melainkan bahwa saya tidak mengerti mengapa orang-orang ini bebal pada kebenaran.
Memang, yang namanya rezim begitu kuat mencengkeram…
Maka…sebisa mungkin, pilihlah calon pemimpin yang meskipun dikelilingi oleh orang-orang yang ‘tidak bersih’, sekurang-kurangnya cengkeraman rezim lamanya kurang begitu kuat… Tentu ini bukan kampanye, cuma rambu untuk memilih.

"98" by Alf Sukatmo. Gouache on paper.“98” by Alf Sukatmo. Gouache on paper. 11/06/2014

Tak mau tenang
Dialektika pikiranku seperti peluru
Riuh
Gaduh
Dan mereka melenyapkanku

19/06/2014
______________
English version

Turbulence mind
Hissing like a bullet
Loud and noisy
And they’ve made me disappear

View original post

Categories: Personal Notes

Tagged as: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s