Ratu Iman

Hari ini Gereja Katolik memperingati Santa Perawan Maria Ratu, asal paroki saya di Blok Q (siapa yang nanya’?). Dulu di atas tabernakelnya ada lukisan besar Santa Perawan Maria itu. Sekarang di gedung yang baru, representasi Perawan Maria Ratu adalah patung kecil di depan panti kor (kalau belum digeser). Sejujurnya, gambar dan patung itu tak berarti ratu bagi saya sejak kecil lha wong saya juga tak pernah mengalami pemerintahan monarki (kecuali jika kita sepakat bahwa Orde Baru adalah pemerintahan monarki; itu pun pemimpinnya bukan Ratu Tien, melainkan Raja Harto alias Raja Harta). Baru setelah belajar teologi saya ngeh bahwa memang aneka gelar atau metafor itu ya mesti dipandang dengan kaca mata iman, berapapun ukurannya.

Salah satu kaca mata itu adalah bacaan-bacaan hari ini. Kitab Yesaya menyodorkan janji-janji Allah bagi bangsa Israel, yang pada gilirannya terbuka untuk semua bangsa. Apa janjinya? Terang yang besar, bertambahnya bangsa dan kegembiraannya, serta kebebasan yang melegakan semua orang. Akan tetapi, terang yang dijanjikan Allah ini tidak seperti bintang atau sinar matahari per se, ini adalah sosok pribadi. Begitu juga kegembiraan dan kebebasan itu bukan pertama-tama soal terlepasnya bangsa dari ancaman psikopat yang meraja, atau beban hutang luar negeri yang membengkak. Janji Allah itu adalah sosok pribadi yang kita sebut Yesus Kristus.

Lha, siapa yang memungkinkan janji itu terpenuhi? Ya Maria! So, kalau dia disebut Ratu, itu pasti karena dihubungkan dengan posisi Yesus Kristus sebagai Raja Semesta Alam. Maria membuka jalan, a pathway to God. Bagaimana ia melakukannya? Tidak seperti metafor Kerajaan Allah kemarin, Maria mengenakan pakaian pesta: ia menjawab ya dari kedalaman hatinya yang taat. Ini tidak membuat terang, kegembiraan, dan kebebasan datang begitu saja. Orang tetap ada dalam cengkeraman bahaya dunia. Konon, wartawan James Foley tetap digorok sampai mati. Akan tetapi, orang seperti ini justru menunjukkan kepada dunia sebuah terang, kegembiraan, dan kebebasan yang mengatasi aneka himpitan masalah setiap orang, yang meskipun tampak rumit, toh bukanlah segala-galanya. Ada hal lain yang lebih penting brow!

Ya Tuhan, semoga hatiku tetap terpaut pada-Mu melalui perantaraan Bunda Maria Ratu yang terlebih dahulu menghayati ketaatan kepada kehendak-Mu. Amin.


PERINGATAN WAJIB SANTA PERAWAN MARIA RATU
(Jumat Biasa XX)
22 Agustus 2014

Yes 9,1-6
Luk 1,26-38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s