All about Relationship

Rambu-rambu lalu lintas menjadi tanda bagi pengguna jalan untuk bersopan santun dalam berjalan atau berkendara. Misalnya, nyala lampu merah di persimpangan jalan menjadi tanda untuk menghentikan kendaraan dan zebra cross adalah penanda tempat pedestrian menyeberang jalan. Akan tetapi, bagaimana kita memperlakukan tanda itu menjadi simbol atas identitas diri kita. Ada jenis orang yang begitu melihat lampu kuning bernyala langsung tancap gas supaya tidak ‘terkena’ lampu merah. Ada jenis orang yang tahu bahwa lampu hijau tinggal 5 detik dan dengan sengaja ia menghabiskan 5 detik pelan-pelan supaya mobil di belakangnya ‘terkena’ lampu merah. Ada jenis orang yang tak peduli APILL dan pokoknya berkendara seturut apa yang dia maui.

Beberapa ahli Taurat dan kaum Farisi meminta tanda dari Yesus sebagai bukti atas apa yang ia wartakan dan apa yang ditangkap orang banyak mengenai dirinya. Tetapi persis di situlah persoalannya: orang ‘cerdik pandai’ itu tak punya disposisi untuk menangkap tanda yang dibuat Yesus. Mbok Yesus memenuhi permintaan tanda apa pun yang mereka minta, takkan terjadi pertobatan karena pertobatan tak bergantung pada bukti. Begitu pula halnya orang yang meminta bukti eksistensi Allah. Bukti apa pun takkan membuat ia percaya jika basic attitudenya berubah. Yang membuat basic attitude berubah bukan tanda bukti, melainkan relasi.

Mari kita lihat bagaimana Musa pun sempat ditegur Allah karena soal tanda ini. Ketika ia diprotes bangsanya sendiri (karena mereka merasa semakin susah setelah keluar dari Mesir) ia berusaha meyakinkan orang-orangnya bahwa Tuhan akan berperang (melawan Mesir) untuk mereka sementara mereka diam saja. Ini menyatakan bahwa mereka menjadi penonton dan objek tontonan itu adalah Tuhan yang berperang bagi mereka. Tak ada keterlibatan penonton dengan aksi Tuhan. Manusia tinggal ongkang-ongkang saja. Pokoknya terima beres.

Akan tetapi, Tuhan mengoreksi Musa: kamu harus berbuat sesuatu, bangsamu harus berbuat sesuatu, dan dengan itu Aku menyatakan kemuliaan-Ku! Ini mengoreksi basic attitude bangsa Israel yang malah bersungut-sungut setelah keluar dari penindasan bangsa Mesir. Fokus mereka ke yang enak-enak di masa lalu, tetapi tak melihat masa depan yang lebih prospektif dalam kebersamaan dengan Allah.

Kebanyakan ahli Taurat maupun kaum Farisi tidak menjalin relasi dengan Yesus, tetapi terus menerus sibuk mencari tanda. Mukjizat yang dibuat Yesus di sana sini tak berbicara apa-apa bagi mereka. Ini seperti jenis-jenis orang bersikap terhadap rambu lalu lintas tadi. Orang melihat tanda, tapi tak mengerti simbol, tak bisa merajut makna. Ahli Taurat dan kaum Farisi tahu ada tanda di sana sini, tetapi mereka menjadi simbol kekerasan hati seperti Firaun dan tentaranya, tak bisa keluar dari kepentingan egoistik nan arogan. Tak mengherankan, peristiwa Yesus (sengsara, wafat, bangkitnya) yang lebih besar dari tanda Yunus pun tak mereka tangkap juga, wong gak punya relasi dengan Yesus.

Tuhan, bantulah aku untuk semakin mengenal-Mu. Amin.


HARI SENIN BIASA XVI B/1
20 Juli 2015

Kel 14,5-18
Mat 12,38-42

Posting Tahun Lalu: Permintaan Kurang Ajar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s