Ringankan Bebanmu

Rasa-rasanya kita sudah semakin akrab dengan sajian logika ancur yang ditayangkan media. Problemnya, logika ancur ini tidak hanya dipamerkan oleh preman tak berpendidikan, tetapi juga mereka yang punya ijazah pendidikan tinggi. Maaf, tak saya berikan contoh atau catut di sini. Gak enak juga kalau nanti jadi bulan-bulanan mamah konco dhewe. Bukan apa-apa, saya tak jago menyajikan logika ancur, kasihan rakyatnya nanti tak punya tontonan yang menggemaskan dan menjijikkan.

Tapi, omong-omong, Yesus itu sepertinya menyodorkan logika ancur juga dalam bacaan Injil hari ini. Ia menjanjikan suatu ‘kelegaan’ bersyarat: jika orang lemah lembut dan rendah hati. Ia bilang,”Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaku, karena aku lemah lembut dan rendah hati.” Kuk adalah bilah kayu yang dipakaikan pada dua hewan (biasanya kuda atau lembu) sedemikian rupa sehingga mereka bisa menarik beban tertentu. Secara figuratif, kuk di sini dipahami sebagai perintah dan larangan guru yang diberikan kepada murid-muridnya. Klaim Yesus, kuk yang dia kasih itu malah melegakan. Tapi, mana ada perintah dan larangan yang melegakan? Yang namanya restriksi itu pastilah membatasi. Begitu juga perintah, bahkan meskipun diberi embel-embel agama! Indikatornya: orang merasa terpaksa ke gereja, orang merasa gengsi atau malu jika anaknya murtad, orang kecewa setelah tahu tebakannya jitu tapi tak berguna karena tidak ikutan judi.

Sik sik sik, kayaknya Yesus gak singgung-singgung soal perintah agama deh! Ia cuma bilang: kalau kamu mau damai, tenang, lega, bebas dari beban, jadilah lemah lembut dan rendah hati. Ha ini kan bukan soal agama. Orang beragama apapun bisa belajar menjadi lemah lembut dan rendah hati. Bahwa tiap kepala punya tafsiran masing-masing mengenai lemah lembut dan rendah hati, itu lain soalnya. Ada yang mengira bahwa lemah lembut itu berarti gemulai, permisif dan rendah hati itu berarti selalu meletakkan diri di tempat yang lebih rendah (emangnya air?). Itu masih bisa didiskusikan atau diperdebatkan.

Teks Injil hari ini mempertimbangkan fakta bahwa orang miskin (tidak selalu berarti miskin secara ekonomis) dan anak-anak kecil adalah satu-satunya kelompok orang yang memahami dan menerima kebijaksanaan logika ‘ilahi’ dengan dua sikap tadi: lemah lembut dan rendah hati. Ini adalah jalan untuk belajar dari Yesus. Kerendahan hati merupakan kualitas dasar cinta yang memungkinkan orang tahu (bukan berlagak tahu) tempatnya yang paling tepat. Kelemahlembutan melengkapi pengetahuan itu dengan metode untuk mendapatkan tempat paling tepat itu: bukan dengan mentalitas menang kalah (zero sum), apalagi tambah dengan kekerasan. Kekerasan menihilkan nilai (kebenaran, agama) yang diperjuangkannya.

Tanpa kerendahan hati dan kelemahlembutan tak ada cinta. Hanya ada arogansi yang justru membebani hidup. Tanpa logika ‘ilahi’ ini, orang berpikir, misalnya, meminta maaf berarti membenarkan orang lain (lupa bahwa tiap orang bisa andil dalam kesalahan) atau mengampuni berarti menyetujui kesalahan orang lain. Nah, tanpa logika ‘ilahi’ malah logika dalam berelasi jadi ancur.

Yesus, ajarilah kami berhati lembut dan rendah hati. Amin.


HARI RABU ADVEN II
9 Desember 2015

Yes 40,25-31
Mat 11,28-30

Posting Tahun Lalu: Doa Aja Ribut…Gak Capek, Brow?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s