Kejahatan Yang Mulia?

Yesus itu janjane kalau memuji tulus gak ya? Lha wong memuji Yohanes Pembaptisnya itu rada lebay je: dari semua yang pernah dilahirkan perempuan, gak ada yang lebih besar dari dia. Artinya, Abraham, Yeremia, Yesaya, dan nabi-nabi besar lainnya tidaklah lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Tetapi, Saudara-saudara, yang terkecil dari Kerajaan Allah itu jauh lebih besar dari Yohanes Pembaptis! Rasanya seperti dibombong tinggi-tinggi njuk dihempaskan ke tanah keleus.

Sebelumnya dikisahkan Yohanes mengutus orangnya untuk bertanya apakah Yesus adalah orang yang “akan datang” itu atau mereka mesti menantikan orang lain lagi. Yohanes tampaknya punya beberapa keraguan tentang Yesus. Maklum, kiranya dia punya gagasan bahwa Mesias itu adalah sosok hakim yang penuh kemarahan mengecam mereka yang berhati busuk (bdk. Mat 3,7: Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?). Mungkin juga Yohanes melihat sosok Mesias bagai kapak yang siap menebang pohon yang tak berbuah (Mat 3, 10) atau alat penghancur lainnya.

Yohanes minta kepastian, tetapi Yesus malah memastikan kesesatan paham Yohanes tentang Mesias. Kemarin sudah ditegaskan sifat Mesias: lemah lembut dan rendah hati. Ia sangat welcome terhadap para pendosa (Mrk 2,16). Alih-alih memberi jawaban pasti, Yesus menuntun Yohanes dan pengikutnya untuk melihat teks Kitab Suci lagi secara lebih teliti dan menatapkannya dengan hal-hal mutakhir yang terjadi: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Mat 11,5 ITB). Ini adalah teks dari Kitab Yesaya yang memproyeksi kedatangan Mesias. Akan tetapi, Yohanes dari dirinya sendiri rupanya tak bisa membaca teks Kitab Suci itu sebagai perspektif untuk mengerti Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus.

Memang, sejarah saja tidak cukup mencerahkan orang untuk memahami kebaruan yang diwartakan Yesus. Relasi dengan Yesus memberi ‘mata baru’ untuk menemukan makna yang lebih mendalam. Apa mata baru itu? Yesus tidak menjelaskan, tetapi mengundang orang untuk serius: siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. Yohanes akhirnya memang yakin dan menunjukkan Mesias kepada orang-orang (Yoh 1,36) dan berusaha membangun kembali masyarakat tapi toh luput membawa kebaruan.

Kebaruan yang disodorkan Yesus tampak sepele: paradigma Allah sebagai Bapa. Apakah ini cuma soal terserah menyebut Allah sebagai apa? Sama sekali bukan! Menyebut Allah sebagai Bapa adalah soal relasi dengan Allah dan sesama. Orang yang menerima Allah sebagai Bapa berarti juga menerima yang lain sebagai saudara [bagaimanapun berbedanya, bagaimanapun kerasnya, bagaimanapun kafirnya] karena Allah menjadi Bapa bagi semua (dalam konteks pertobatan bisa klik di sini atau di sini).

Kerajaan Allah bukanlah doktrin atau ajaran moral, melainkan cara baru untuk hidup sebagai saudara dengan siapa saja dan bahkan apa saja. Termasuk bersaudara dengan kejahatankah? Ya bukan dong: kejahatan sendiri adalah minusnya persaudaraan itu je; bersaudara dengan kejahatan jadi suatu contradictio in terminis. Begitu pula menyapa orang jahat dengan sebutan Yang Mulia! Ironis, tetapi justru karena orang beriman tak mau jahat, ia tetap mendoakan Yang Mulia juga, supaya bertobat.

Tuhan, bantulah aku untuk mengerti cara kerja-Mu kerap kali tidak klop dengan pikiran-pikiranku sendiri. Amin.


HARI KAMIS ADVEN II
10 Desember 2015

Yes 41,13-20
Mat 11,11-15

Posting Tahun Lalu: Keras ke Dalam, Lembut ke Luar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s