Bukan Kelahiran Anak Tuhan

Saya belum pernah menghayati bahwa Hari Natal adalah hari kelahiran anak Tuhan. Saya menghayatinya sebagai hari kelahiran anak orang, seperti kelahiran anak tetangga saya, kelahiran teman saya yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Sesederhana itu, sehingga saya terheran-heran sendiri kalau ada orang yang keukeuh berkeyakinan bahwa mengucapkan selamat Hari Natal berarti mengakui bahwa Yesus itu (anak) Allah. Itu lompatan besar ngawur yang jadi wacana kaum fundamentalis, apapun agamanya, yang tidak saya beri ruang di sini. [Barangkali ada yang berpikir,”Lah, jadi Romo ini gak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah ya?” dan kepada yang berpikir begitu saya cuma bisa mengucapkan,”Selamat, Anda tak mengerti apa yang Anda pikirkan” dan “Selamat Natal, semoga dari kepala dan hati Anda lahir pikiran baru yang lebih mencerahkan”]

Memang ada sebagian orang (mungkin lebih banyak jumlahnya) yang lebih percaya pada kekuatan gelap (santet atau ilmu hitam, misalnya) daripada kekuatan terang. Orang lebih percaya terhadap kekuatan yang memungkinkan jarum, paku, dan benda tajam lainnya dikeluarkan dari perut seseorang daripada terhadap kekuatan yang memungkinkan dari rahim seorang perawan dapat dikandung janin selama sembilan bulan, yang entah spermanya dari mana datangnya. Bisa dimaklumi, karena orang lebih silau pada hasil spektakuler daripada proses yang serba biasa. Tulisan di blog ini mengandaikan kenyataan bahwa orang tak bisa berpikir secara ‘ilahi’ sebelum ia berpikir secara manusiawi.

Teks Lukas hari ini memaparkan kisah kelahiran Yesus yang menarik perhatian saya karena urutan sosok pribadi yang disodorkan: Augustus, Kirenius, semua orang, Yusuf, Maria, dan anak laki-laki yang dibaringkan dalam palungan. Menarik, karena mulai dengan sosok besar di mata dunia ini, Kaisar Augustus yang punya kuasa besar untuk mengatur bawahannya yang bisa menentukan nasib banyak orang, termasuk di dalamnya Yusuf, Maria, dan Yesus sendiri sebagai bayi rapuh terbungkus kain lampin. Kesukaan besar yang diwartakan para malaikat tidak terletak pada kuasa besar Kaisar Augustus, tetapi justru pada bayi yang menandakan kelahiran juruselamat.

Nah, sampai di situ, biasanya orang Kristen langsung melekatkan klaimnya: bayi itulah juruselamatnya, anak Allah. Dialah Mesias yang dinanti-nantikan orang banyak. Haiyesss sumonggo, tapi mbok sabar dululah. Teks Lukas menunjukkan bayi Yesus sebagai salah satu pribadi yang lahir di antara sekian banyak orang, mulai dari Kaisar Augustus sampai para gembala. Bahwa kemudian sebagian orang mengklaimnya sebagai nomer satu, sumonggo saja. Cuman, nomer satu itu kan tak bisa dilekatkan pada si bayi, tetapi pada totalitas hidupnya di bumi ini. Karena totalitas hidup yang tertentu itulah yang kemudian membuat pengikutnya menyebut Yesus sebagai Kristus.

So, Natal adalah hari kelahiran Yesus. Wis gitu aja, gak usah membebaninya dengan atribut anak Tuhan atau anak Allah. Lebih tepatnya sihgak usah membebani diri dengan atribut anak Tuhan jika tidak punya keyakinan bahwa Allah yang mahabesar itu mau hadir di dunia melalui peristiwa-peristiwa manusiawi. Tentu orang bisa ngotot memberi atribut anak Tuhan juga tanpa keyakinan tadi, tetapi itu berarti ia jadi korban indoktrinasi, alias cuma bermain sandiwara.

Tuhan, semoga hatiku semakin peka menangkap bahwa Engkau mau hadir dalam hidupku melalui peristiwa-peristiwa biasa juga. Amin.


HARI RAYA NATAL (MALAM NATAL)
Jumat, 25 Desember 2015

Yes 9,1-6
Tit 2,11-14
Luk 2,1-14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s