Allah Melawat, Manusia Nglayap

Hari Raya yang paling tidak saya sukai adalah Hari Natal karena saya berasal dari keluarga miskin. Memang tidak sukanya bukan pertama-tama karena status keluarga miskin itu sih. Status (yang memang cocok dengan keadaan) miskin malah menyenangkan karena setiap menjelang Natal itu saya senantiasa mendapat jatah ‘Aksi Natal’ berupa baju-baju bekas yang dikumpulkan oleh sekolah. Masih kecil waktu itu, belum pikir soal malu mengenakan baju bekas. Mungkin juga begitu mentalitas orang miskin, dapat pakaian bekas saja sudah gembira warbiasah.

Yang terutama bikin saya tidak menyukai Hari Natal ialah penuturan kisah gelap yang dipadu dengan lagu melow dalam sebuah kaset cerita ‘Gadis Penjual Korek Api‘ terjemahan karya H.C. Andersen. Kepala saya merekam kisah itu sebagai kisah yang mengenaskan. Memang di akhir kisah jelas diceritakan bahwa gadis itu gembira sekali bertemu dengan neneknya yang sudah meninggal, dan gadis itu sendiri akhirnya meninggal kedinginan meskipun tersenyum bahagia. Saat itu bagi saya endingnya menyedihkan. Sekarang saya bisa memahami happy ending kisah itu meskipun tetap tak menarik minat saya pada Hari Natal. Sepi, pilu, menyedihkan, dan bahkan belakangan ini suasananya sangat ironis: pesannya damai tetapi untuk merayakannya dibutuhkan ritual tambahan demi keamanan.

Mungkin memang begitulah perayaan misteri iman: ironis, paradoks. Dua bacaan pagi hari ini menyebut nama Daud. Bacaan pertama (2Sam 7,1-5.8b-12.16) menginsinuasikan kejayaan dan kebesaran kerajaan Daud. Bacaan Injil menunjukkan keturunan Daud, yang kejayaannya tak bisa diukur dengan parameter kejayaan kerajaan Daud tadi. Zakharia melambungkan pujian kepada Allah atas putranya yang menyiapkan datangnya sosok keturunan Daud itu, sosok yang dijanjikan Allah supaya orang dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut (tetapi mau bagaimana lagi, mesti disisir oleh satuan antiteror). Lawatan Allah dalam sejarah inilah yang disyukuri Zakharia (Luk 1,67-79).

Lawatan Allah dalam sejarah itu senantiasa menimbulkan kesalahpahaman atau kekisruhan karena tendensi orang untuk memutlakkan hal-hal yang relatif, membatasi hal-hal yang tak terbatas, yang bercokol dalam pikirannya sendiri. Tak mengherankan, syukur atas lawatan Allah dalam hidup manusia itu tak terpahami dan orang lebih senang klayapan atau keluyuran ke lorong-lorong pemikirannya sendiri yang lebih silau oleh aneka asesoris. Lebih-lebih inilah yang membuat saya tak menyukai Natal dan Natal sungguh memilukan: orang silau pada asesoris sehingga tak lagi bisa melihat lawatan Allah dalam hidupnya.

Saya bersyukur tak punya ketertarikan pada Hari Natal karena setiap kali hari itu datang, saya senantiasa dapat bertanya ke mana hati saya berkeluyuran ketika Allah hendak melawati hidup saya. Benarlah yang dikatakan Paus Fransiskus bulan lalu bahwa Natal adalah sandiwara. Orang menangkap kelap-kelip semarak lampunya, tetapi tak melihat gerak-gerik cinta Sang Empunya. Semoga damai Tuhan menyertai kita semua. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Kamis, 24 Desember 2015

Posting Tahun Lalu: Bagaimana Memberkati Tuhan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s