Game Over

Entah kamera biasa yang dipakai turis atau kamera X-ray di bandara sama-sama menangkap citra yang bisa ditangkap oleh indera penglihatan manusia. Pada saat-saat tertentu, tanpa kecelakaan fotografi karena kurangnya kecepatan rana, mungkin bisa terjadi muncul sosok yang pada saat pemotretan berlangsung tak terlihat oleh mata telanjang. Ini mungkin lho ya…

Lukas memotret peristiwa kelahiran Yohanes bukan dengan dua kamera itu. Ada lensa ekstra yang dipakainya, yaitu bahwa Yesus menandai suatu perjanjian baru antara Allah dan umat-Nya. Perjanjian Allah-manusia tidak lagi dimeteraikan dalam loh batu yang ditafsirkan dengan aneka macam detail Hukum Taurat, tetapi dalam sosok pribadi. Kelahiran Yohanes pun, seperti dilukiskan dalam bacaan pertama, merupakan persiapan perjanjian baru itu. Salah satu antisipasi itu ialah soal penamaan Yohanes sendiri.

Di dusun kecil seperti Ain Karem, tempat tinggal Elisabet dan Zakharia, yang namanya kontrol sosial tentu saja begitu kuat. Kalau ada orang yang menyeleweng dari adat kebiasaan, ia pasti mendapat perhatian besar dari lingkungan sekitar dan itu artinya ia dikritik habis-habisan. Pada masyarakat modern yang individualistik, mekanisme itu mungkin kurang terasa (lu mau jungkir balik mah terserah), tetapi sebetulnya bisa dilihat pada masing-masing individu yang punya pegangan “semua orang juga gitu” atau “dah dari dulu begitu kok” atau “sudah begitu tradisinya” atau “begini juga nyatanya gapapa“.

Elisabet tidak mengikuti adat kebiasaan dalam menamai anaknya. Ia memilih nama di luar pakem, di luar kebiasaan mereka memberi nama dengan garis dari ayah (dalam kasus Yohanes berarti Zakharia Jr). Elisabet seperti memiliki intuisi rohani untuk mengatakan game over kepada kebiasaan atau tradisi yang rupanya kurang akomodatif bagi suatu perjanjian baru antara Allah dan manusia. Keberanian Elisabet ini mendapat peneguhan dari Zakharia suaminya yang sudah sembilan bulan kelu karena tak sungguh-sungguh mendengarkan kata-kata malaikat yang membawa pesan Allah sendiri.

Tuhan, bantulah aku untuk mengatakan game over terhadap kebiasaan yang tak user-friendly bagi martabat manusia. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Rabu, 23 Desember 2015

Mal 3,1-4;5,5-6
Luk 1,57-66

Posting Tahun Lalu: Apa Nama Sebuah Arti?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s