Mahmud Bergiranglah

Supaya ada cara pandang lain terhadap mahmud, ada baiknya kita perhatikan dua bacaan yang disodorkan untuk hari ini. Keduanya menyajikan cerita dua mamah, yang satu muda, Maria, sehingga bisa disebut mahmud alias mamah-mamah muda karena usianya masih belasan tahun. Sedangkan yang satunya, Hana, tak bisa dibilang muda lagi tetapi juga bisa dibilang mahmud. Lha njuk mahmud ki apa, tadi katanya mamah-mamah muda?! Ya sabar dikit napa!

Mahmud sudah diserap dari bahasa Arab ke Indonesia dengan makna ‘yang terpuji’. Itu pasti tak terikat pada umur tertentu. Di mana terpujinya Hana yang bukan mamah-mamah muda itu? Dia mandul dan hidupnya susah karena perempuan lain dalam hidup Elkana, suaminya, sering menyakiti hatinya. Ia semakin bertafakur kepada Allah dan intervensi Allah memungkinkannya hamil dan melahirkan anak laki-laki yang kemudian dipersembahkannya kembali kepada Allah di hadapan imam. Hana terpuji karena nazarnya (yang dipenuhinya) untuk memberikan anak tunggalnya, seumur hidupnya, untuk kepentingan pujian kepada Allah. Hana tidak kuliah teologi tetapi ia percaya akan rencana keselamatan Allah dan ia mau melibatkan hidupnya, berbagi hidup dengan anaknya juga dalam proyek raksasa itu. Maria juga terpuji karena alasan serupa. Bacaan hari ini menyajikan lagu kegirangannya, tetapi jelas terlihat di situ lagu pujiannya bukan lagu melankolis. Maria sungguh-sungguh melihat bahwa Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadanya (Luk 1,49).

Anda, entah laki-laki atau perempuan, jadi mahmud ketika (1) sensitif terhadap peran Allah dalam hidup Anda dan (2) mau melibatkan diri atau berbagi seluruh suka duka hidup dengan kehendak Allah untuk menyelamatkan seluruh bangsa manusia. Tetapi, karena hari ini Hari Ibu, ya sudahlah kita kasih ruang sebesar-besarnya untuk para ibu supaya jadi mahmud. Mereka ini, pantas bergirang ketika mengingat bagaimana mereka berpartisipasi membangun kehidupan ilahi melalui hidup insani: saat-saat kritis melahirkan bayinya, saat-saat berat mendidik anaknya, saat-saat kekerasan melanda hidup tetapi nazarnya tak berubah untuk menyerahkan, bukan lempar tanggung jawab, bahkan anaknya kepada tuntunan Allah sendiri.

Ya Allah, berikanlah aku kepekaan hati atas perbuatan-perbuatan besar-Mu dalam hidupku dan keberanian untuk melibatkan seluruh hidupku pada kehendak suci-Mu. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Selasa, 22 Desember 2015

1Sam 1,24-28
Luk 1,46-56

Posting Tahun Lalu: Joged karena Bayi Tabung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s