Nista Abadi

Ini curcol yang semula hendak saya tujukan pada teman/saudara Muslim berhubung dengan situasi aneh negeri ini. Saya bersimpati besar terhadap teman dan saudara Muslim yang ternistakan oleh beberapa kasus belakangan ini (tanpa melupakan bencana di Aceh): Ahok Jakarta, Mabuga Bandung, baliho-balihi Jogja. Akan tetapi, saya segera sadar, penistaan ini (meskipun terhubung dengan agama Islam) bukanlah penistaan agama Islam, karena yang dinistakan bukan agama, melainkan akal sehat, dan akal sehat tidak dibatasi oleh kotak agama. Juga dalam agama yang saya peluk toh terjadi hal serupa (meskipun internal sifatnya) dan dalam sejarah dunia jelas bersama umat Muslim, orang Katolik juga terlibat dalam skandal agama yang sangat terstruktur, sistematis dan masif, yaitu Perang Salib.

Peristiwa skandal macam itu membuat saya berkaca, bukan saja malu, bahwa agama itu tak semulia klaimnya karena akhirnya bergantung pada orang-orangnya. Arogansi agama justru meruntuhkan kemuliaannya sendiri. Dalam Gereja Katolik secara formal ini baru diakui pada paruh kedua abad lalu dan toh pengakuan itu tak selalu sejalan dengan yang terjadi di lapangan. Tetap ada yang bergaris (agak) keras dan tempurungnya benar-benar susah dibuka oleh pernyataan Misteri Ilahi yang begitu agung, yang tentu juga bekerja melalui komunitas (agama) yang berbeda. Agama yang hirarkis pun tak bisa mencoret pemeluk-pemeluk radikal macam ini, gimana yang hirarkinya tak begitu kokoh? Mestinya lebih susah lagi. Itulah simpati awal saya terhadap teman dan saudara Muslim yang merasa malu atas polah tingkah teman atau tetangga Muslim mereka. We’re on the same boat, dan memang takkan pernah mudah mencoret radikalisme begini.

Tapi ya memang gak perlu coret-coretan sih (gada bedanya dengan yang radikalis dong kalau kita ingin meniadakan yang lain) supaya ternyatakan bahwa penistaan itu, sebagaimana kebaikan, sifatnya abadi. Saya tiba-tiba ingat sebuah lagu masa kecil saya yang syairnya menyinggung nista abadi itu.

Serumpun jiwa suci, hidupnya nista abadi. Ayat ini menyentak saya, tetapi meneguhkan juga untuk setia pada kebaikan, bukan pada penistaannya. Saya ulang kembali apa yang dikatakan orang bijak bahwa jika ada dua orang kehujanan, yang baik membawa payung, yang jahat tak membawa payung, yang basah kuyup justru adalah orang baik itu: karena si jahat merampas payungnya. Begitulah nasib jiwa suci, hidupnya nista abadi.

Saya cinta NKRI, dan saya percaya, Anda juga cinta Ibu Pertiwi ini yang punya harapan dari janji-janji kita untuk menjaga, merawat, merayakan keragamannya. Di hadapan para penista akal sehat yang kerjanya terstruktur, sistematis, dan masif itu memang kita ini seolah tanpa daya. Kita tak punya kekuatan koersif yang dimiliki negara. Syukurlah bahwa di Bandung sudah ada, sekurang-kurangnya, kesepakatan supaya akal sehat tak dinistakan dan presiden membuat semacam task force untuk menangani penistaan akal sehat. Semoga ini juga jadi autokritik untuk negara sendiri. Runyam kan kalau yang menistakan akal sehat itu justru lembaga negara [baru dengar berita memprihatinkan mengenai long march warga yang tanggapannya, bisa jadi, menistakan akal sehat loh].

Kondisi itu bisa membahayakan NKRI dan ngeri juga kalau NKRI runtuh hanya karena akal sehat tak dipelihara: ongkosnya sangat tinggi dan korbannya mungkin juga mengerikan. Semoga jiwa suci tak surut menyehatkan akal karena nista-abadi-itu di wilayah manapun kita berjuang. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s