Buat Apa Susah?

Ada cognate (kata seasal) antara bahasa Ibrani dan Indonesia berkenaan dengan atribut Yohanes Pembaptis yang dipenjara: nabi. Apa artinya? Dalam bahasa Ibrani, katanya, berarti ‘yang dipanggil’. Dipanggil untuk apa? Untuk jadi mediator antara Allah dan umat-Nya. Yohanes ini menyiapkan umat Allah supaya connect dengan Allah-yang-tinggal-bersama-kita, bukan Allah yang setelah mencipta njuk ongkang-ongkang jadi penonton. Ia begitu yakin akan panggilan sucinya ini. Dalam teks lain ditunjukkan ia begitu berkobar-kobar dan yakin akan tugasnya menyiapkan kedatangan Mesias itu.

Akan tetapi, setelah ia dipenjara, keyakinan itu terkesan luntur. Ia tampak ragu-ragu dan keraguan ini bukan cuma keraguan tentang soal sepele. Barangkali ini seperti keraguan seorang imam di ‘penghujung hidupnya’ mengenai apakah imamat itu benar-benar panggilan Allah baginya, atau seperti pasutri yang setelah sekian puluh tahun menikah bertanya serius apakah ia tak salah pilih pasangan. Mungkin ini jadi bahan refleksi yang menarik untuk umat beriman: bagaimana Yohanes menindaklanjuti keraguannya dan jawaban apa yang diperolehnya.

Pertama, karena ia berada di penjara, ia meminta murid-muridnya untuk bertanya langsung kepada sosok yang jadi objek keraguannya. Pertanyaan keraguan itu sendiri masuk akal alasannya: kalau memang Yesus yang dinantikan bangsa Yahudi itu, kenapa malah fungsi kenabiannya terbelenggu? Kenapa ia dipenjara? Kenapa si Herodes itu makin meraja lela? Kenapa para koruptor itu gak jera dan bertobat juga? Meminta murid-muridnya untuk bertanya itu mengandaikan bahwa Yohanes berbagi keraguan juga dengan murid-muridnya. Ia tidak sendirian. Murid-muridnya juga tak bisa menjawab dan mungkin punya keraguan yang serupa, bahkan mungkin lebih besar.

Ini baik jadi cermin. Bisa jadi orang beragama menyimpan keraguannya sendiri, lalu membuat rasionalisasi sendiri, menjawab sendiri, memastikan sendiri, dan ujung-ujungnya malah menistakan agamanya sendiri. Tak sedikit orang mencoba beragama secara individual: tidak srawung (silaturahmi) membangun paguyuban agamanya sendiri, pokoknya sudah Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, ya sudah. Yang penting doa pribadi dan ikuti ritual mingguan atau hari besar ya sudah cukup.

Kedua, tak ada kepastian dalam jawaban atas pertanyaan Yohanes itu. Alih-alih mengatakan ya atau tidak, Yesus menyampaikan pesan kepada murid-murid Yohanes untuk melihat saja apa yang terjadi. Akan tetapi, Yesus sudah melakukan framing dalam pesannya: ini yang perlu kamu perhatikan, bahwa orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan seterusnya. Yang disodorkan yang wow saja. Apakah Yesus tutup mata pada fakta bahwa Yohanes dipenjara, bangsa Yahudi semakin ditindas Roma, penguasa sewenang-wenang, dan koruptor gak jera itu? Tentu tidak. Yesus tahu persis apa yang jadi keprihatinan Yohanes juga.

Yesus tak mungkin tutup mata bahwa Yohanes dipenjara dan dibunuh persis karena menjalankan fungsi kenabiannya. Tak hanya itu, Yesus juga tahu bahwa dirinya akan mengalami nasib serupa. Akan tetapi, bukan itu poin pentingnya kalau Yesus menunjukkan yang wow-wow tadi. Di tengah kisruhnya bangsa ini, lihat saja hal-hal yang bisa diharapkan dan itu lebih menggembirakan daripada terus prihatin, mengeluh, protes mengapa orang jahat berbuat jahat!

Seringkali framing pandangan masyarakat ditentukan media (sosial) dan sensasi yang ditimbulkannya lebih negatif dari kenyataannya. Maka, ada baiknya orang sabar dan tidak gagal fokus: harapan-iman-cinta. Semoga orang beriman terlibat dalam Kebenaran untuk menguak Diri-Nya. Amin.


MINGGU ADVEN III A/1
11 Desember 2016

Yes 35,1-6a.10
Yak 5,7-10
Mat 11,2-11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s