Mau Roti Gratis?

Pernah dengar kata Tanstaafl? Itu adalah akronim dari kalimat There ain’t no such thing as a free lunch. Maksudnya, pasti ada cost yang dikeluarkan untuk apapun juga. Aksi awal Desember lalu menegaskan hal ini. Mengharukan bahwa penjual roti menggratiskan dagangannya demi mendukung aksi damai. Hebat. Tampak tulus. Kesan ini runtuh ketika ada klarifikasi dari pihak produsen roti dan berujung pada aksi sableng terhadap produk roti tersebut. “Harusnya elo gak usah bilang-bilang ada yang bayar dong! Jadi pada gak percaya kan aksi kemarin itu tulus dari masyarakat.”

Orang yang maunya menginterogasi tetapi tak mau diinterogasi, yang ingin berpengetahuan tanpa mau mengubah pendapat, yang mencari kebenaran tanpa mau melepaskan kepastian, yang menginginkan keadilan tanpa mau melepaskan privilese, takkan menemukan jawaban atas kehausannya akan pengetahuan, kebenaran, keadilan. Itu kata seorang ahli Kitab Suci yang belajar filsafat dan teologi. [Itulah juga yang dialami tokoh sableng kita meskipun ia tidak belajar filsafat-teologi secara formal, tanpa gelar akademis.]

Kisah bacaan pertama hari ini sebenarnya lucu. Bileam, ahli nujum yang disewa untuk mengutuk orang Israel, pada waktunya malah menggelontorkan ungkapan pujian bagi Israel. Ini tak sesuai dengan SOP dan pasti menjengkelkan bagi penyewanya, tetapi mau bagaimana lagi, memang itulah kebenaran yang dibisikkan Roh kepada Bileam. Klaim yang hendak dibuat penyewa Bileam itu diruntuhkan oleh Roh yang senantiasa menguak Kebenaran.

Andaikan saja seluruh umat beragama itu jujur mendasarkan hidupnya pada gerakan Roh Kebenaran ini, niscaya aneka konflik horisontal dibatalkan. Orang tak akan fokus pada “agamamu vs agamaku”, tetapi pada upaya membangun kebaikan bersama, apapun agamamu dan agamaku. Kebangkitan suatu agama tidak dipahami sebagai komparasi dengan agama lain, tetapi sebagai pemurnian agama itu sendiri untuk merealisasikan Roh Kebenaran, dan sayangnya Roh Kebenaran ini tak bekerja dengan pola menistakan agama lain. Pola macam itu hanya mengindikasikan bahwa yang bersangkutan tidak punya kepercayaan diri terhadap agamanya sendiri dan senantiasa ribut dengan yang berbeda darinya.

Teks bacaan kedua hari ini menjadi contohnya: imam-imam kepala dan sesepuh orang Yahudi menginterogasi otoritas rohani yang ditunjukkan tokoh sableng kita. Maklum, mereka merasa terancam bahwa banyak orang tertarik pada tokoh sableng ini. Kerangka pikir mereka ada dalam ranah relasi kekuasaan, bukan relasi komunikatif. Kalau dalam hidup bersama, orang cuma punya kacamata kekuasaan, ia cuma pikir soal kuantitas, kemenangan atas pihak lain. Sebaliknya, kalau orang punya kerangka komunikatif, dengan pihak yang lain ia mencoba menguak Kebenaran, yang mengatasi aneka perbedaan indrawi.

Jika orang tak mau menerima benih kebenaran dalam pihak lain yang berbeda darinya, ia menunjukkan sendiri bahwa yang dianutnya bukanlah Kebenaran universal, meskipun ia bisa menggembar-gemborkan bahwa agamanya universal dan cinta damai, misalnya.

Ya Allah, mohon Roh Kudus supaya kami dapat menangkap kebenaran-Mu juga dari mereka yang berbeda dari kami. Amin.


HARI SENIN ADVEN III
12 Desember 2016

Bil 24,2-7.15-17a
Mat 21,23-27

Posting Tahun Lalu: Religious Lag
Posting Tahun 2014: Ketika Modus Jadi Bumerang

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s