Putus Saja

Konon antara perkataan dan perbuatan itu ada samudera luas terbentang. Tidak mudah membangun jembatan di antara keduanya. Ya gak usah bangun jembatan to, Rom. Tinggal naik pesawat aja nyampe‘ [ya belum tentu juga sih, halah dibahas]. Betul, tetapi itu mengabaikan kenyataan samudera nan luas itu; orang tak bersentuhan dengan samudera luas dan aneka macam karakteristiknya yang bisa setiap saat menantang orang dalam perjalanan, mau lanjut atau kembali atau biar tenggelam saja di tengah samudera itu.

Bacaan hari ini menyinggung soal jembatan antara perkataan dan perbuatan itu, yaitu pertobatan, dan tak seorang pun mengatakan bahwa pertobatan itu mudah. Juga bagi orang Katolik yang hari-hari ini mungkin akan terlihat lebih aktif dengan ritual pengakuan dosanya, pertobatan itu tidak mudah. Beberapa menit sekeluar dari bilik pengakuan, orang sudah bisa jatuh ke dosa yang baru saja diakukannya di bilik pengakuan. Secara manusiawi ini tidak sulit dijelaskan: jika dosa itu berkenaan dengan problem psikologis dan orang belum selesai dengan dirinya, tendensi kedosaannya tetap terpelihara atau terpupuk, bahkan meskipun ia menampilkan kesan penyesalan atau terus menerus minta maaf atau pengampunan.

Pertobatan bukanlah sebuah pengumbaran rasa perasaan menyesal meskipun perasaan sesal itu juga penting. Bayangkan saja Anda berhadapan dengan korban indoktrinasi yang begitu yakin bahwa surga di bawah telapak kaki ibu itu harus dibukanya dengan bom bunuh diri. Bayangkanlah Anda berdialog dengan orang yang sedemikian yakin, tanpa rasa sesal sama sekali, bahwa tindakannya membunuh anggota keluarga dan umat manusia adalah jalan yang diridai Allah. Bagaimana simpati Anda terhadap orang yang tak punya rasa sesal ini setelah ia membantai orang-orang yang Anda cintai? Maksud saya, kalau rasa sesal itu tak ada, sulit kita terima adanya kualitas kemanusiaan di situ. Meskipun demikian toh pertobatan bukan perasaan sesal itu sendiri.

Pertobatan adalah sebuah keputusan (untuk terlibat dalam tindakan solidaritas bersama Allah). Kata dasarnya ‘putus’, halah…. Orang bisa saja memelihara dosa (hampir) bersamaan dengan penyesalannya dan ia masih tinggal dalam situasi undecided. Akan tetapi, begitu bertobat, ia mengambil keputusan. Keputusan untuk bertobat ini tidak menghilangkan godaan, tentu saja, tetapi jelas ini lebih dari sekadar rasa perasaan sesal tadi yang muaranya adalah tindakan. Tak mengherankan bahwa anak bungsu yang disebutkan dalam perumpamaan hari ini lebih diapresiasi: karena ia mengalami pertobatan. Pertobatan sejati tidak membuat orang putus asa karena kesulitan yang dihadapi.

Jadi, orang yang sungguh bertobat itu seumpama dia yang menceburkan diri ke dalam samudera luas dan tetap punya energi untuk menyeberang dari pulau ‘perkataan’ ke pulau ‘perbuatan’. Ini bukan arogansi yang mau ambil shortcut dengan navigasi pesawat dan tiba di pulau ‘perbuatan’ bermodalkan keyakinan asal perbuatannya cocok dengan yang diperintahkan orang lain dan menyenangkan hati si pemerintah itu. Pertobatan sejati muncul dari dalam karena relasi pribadi orang dan Allah yang jadi Bapa bagi semua orang tanpa pengecualian.

Ya Allah, bantulah kami supaya tidak bersandiwara dengan rasa perasaan tobat tetapi sungguh berani mengambil keputusan untuk terlibat dalam proyek cinta-Mu. Amin.


HARI SELASA ADVEN III
Pesta Wajib S. Lusia
13 Desember 2016

Zef 3,1-2.9-13
Mat 21,28-32

Posting Tahun Lalu: Jamu Jarak
Posting Tahun 2014: Orang Beriman Gak Kebal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s