Puas Jadi Komentator?

Anda yang hobi menonton sepak bola Premier League dengan komentator orang sono dan kemarin menonton siaran langsung final AFF leg pertama dengan komentator orang sini, akan bisa membandingkan bagaimana mutu komentar-komentarnya. Untunglah para pemain kita itu tidak mendengar komentar komentator TV! Enak gak sih rasanya di lapangan hijau berjibaku mati-matian dengan risiko cedera dan yang duduk manis di ruang AC mengkritik sana-sini seenteng bibirnya? Tentu, ini bukan ajang untuk berkomentar mengenai komentator sepak bola. Saya cuma membagikan apa yang muncul dalam benak saya ketika membaca teks hari ini: Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja.

Itu adalah lanjutan teks kemarin yang hendak menjelaskan siapa sosok Yohanes yang mendahului tokoh sableng kita. Yohanes ini bukan sosok berpakaian indah dan hidup mewah. Ia tinggal di padang gurun dan bahkan untuk makan pun sepertinya ia mesti berburu belalang dulu karena tak ada orang Wonosari yang mengirimkan belalang goreng kepadanya. Saya masih sedikit lebih beruntung karena berburu makanan di kota pelajar berhati nyamnyam tidaklah sulit. Tentu, ini juga bukan ajang untuk memetakan tempat kuliner di kota toleran oh toleran anak yang manis ini.

Ada saja orang, saya, Anda, kita semua, yang hidup berhati nyaman dari kerja keras dan keringat orang-orang miskin dan sederhana. Kenapa bisa nyaman? Karena punya uang, Saudara-saudara, bagaimanapun itu mau dirasionalisasikan! Syukur kalau orang-orang yang memungut dan memilah-milah sampah di tempat pembuangan (sebelum) akhir itu mendapat bayaran yang pantas. Kalau tidak, semakin terpuruklah mereka: sudah jenis pekerjaannya dianggap kotor, bayarannya kecil pula. Ini mengerikan! Orang merasa jijik untuk melakukannya sendiri, tetapi juga jijik membayar orang yang berkenan melakukannya. Tega’ lu ye. [Jadi ingat, orang-orang muda di negeri seberang yang tak mau bekerja di dinas kebersihan padahal gajinya hanya sedikit lebih rendah dari manajer; akhirnya pekerjaan itu malah diambil oleh para pendatang.]

Sewaktu masih SMA, saya punya dua alasan keterpaksaan untuk bangun pagi-pagi benar setiap hari. Pertama, karena wajib. Kedua, karena saya pernah menjumpai orang-orang tua yang menggendong tenggok ke pasar di pagi-pagi buta. Poin saya bukan soal bangun paginya, melainkan kerja kerasnya. Mosok iya sih di depan orang-orang yang berjibaku untuk hidupnya ini saya berleha-leha hanya karena saya punya uang? Tebusan solidaritas kepada orang miskin dan sederhana tidak terletak pada lagak atau gaya pencitraan hidup sederhana, tetapi pada kerja keras yang diorientasikan bagi kepentingan bersama, bagi Kebenaran, bagi keadilan Allah di dunia ini. Ngeri deh kalau orang-orang yang punya posisi strategis untuk kepentingan bersama malah ngotot keras untuk memenangkan diri, mengagungkan status, menista sesama. Memang jadi viral, tetapi bukan hall of fame, melainkan hall of blame.

Gaya hidup keras Yohanes pendahulu tokoh sableng kita itu inspiratif untuk menelisik batin kita sendiri: apakah kita bekerja keras dan apakah kerja keras itu fruitful bagi sesama dan diri sendiri? Ataukah kerja keras itu disertai aneka gerutu dan keluh kesah yang meruntuhkan makna kerja keras sendiri? Apakah kerja keras itu semata untuk akumulasi aktualisasi diri yang tak berhubungan dengan penegakan keadilan sosial?

Ya Allah, kami mohon kekuatan untuk bekerja keras di ladang-Mu. Amin.


HARI KAMIS ADVEN III
15 Desember 2016

Yes 54,1-10
Luk 7,24-30

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s