Salah Sambung

Semoga saya tak didakwa menistakan Bunda Maria atau agama Katolik. Saya masih ingat banyak orang tertipu kecanggihan teknologi yang dipake’ untuk mengesankan penampakan Bunda Maria. Orang bisa berkumpul di sana atau di sini untuk melihat penampakan Bunda Maria seperti dikatakan oleh pemakai kecanggihan teknologi itu. Si pemakai teknologi itu sudah meninggal pada awal milenium tetapi barangkali pengikutnya, yang tak mau disebut tertipu, masih berkeliaran di sana-sini. Yang pasti, tendensi orang saleh yang tertipu oleh sensasi yang diaduk oleh kecanggihan teknologi itu tidak eksklusif milik mereka.

Maklum, zaman internet dan aneka macam software rekayasa memang bisa jadi medium yang baik untuk menyebarkan ideologi yang basisnya adalah sensasi indrawi. Akibatnya, orang saleh yang tidak memaksimalkan daya nalarnya akan segera melompat kepada kesimpulan-kesimpulan ‘rohani’ atau ‘agama’ yang janggal dan mudah sekali langsung klik mengatakan amin. Melihat awan berbentuk Yesuslah, melihat Bunda Maria di tembok rumah kunolah, melihat wajah Yesus di pohon tomatlah. Macam-macamlah. Ini sifatnya lintas agama, tetapi cukup saya kasih contoh kresten saja. Andaikan memang betul begitu (ada wajah Yesus pada tomat), orang perlu fair bahwa sensasi yang didapatnya itu ada dalam dirinya dan pertanyaan “So what gituloh” harus dia sendiri yang menjawabnya: kalau Yesus memang nongol di pohon tomat, apa kiranya yang dikehendaki Allah bagiku?

Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ini kok susah banget ya teksnya dan secara sepintas ada kesan arogan dari tokoh sablengnya: Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia! (Ha njuk ngopo di bagian lain dia memberi mandat supaya orang memberi kesaksian?)

Untuk memahami teks ini, saya pakai dialog dalam film berjudul PK. Si PiKe mengeksplorasi keragaman agama di bumi dan salah satu ritual yang dianggapnya bisa membuat ‘salah sambung’ (tidak connect dengan Tuhan, dengan Kebenaran) adalah ketika apa yang de facto dibutuhkan orang banyak untuk hidup malah dipakai secara berlebihan (bukan sebagai simbol bersahaja) demi ritual tertentu.
PK: Untuk apa menyiramkan susu pada batu dan menyembahnya?
Jaggu: PK, andaikan saja gak salah sambung, apa kiranya yang dikatakan Tuhan itu?
PK: Apa yang akan Dia katakan? Dia akan bilang, setiap hari, jutaan anak jalanan kelaparan di Delhi. Biarkan mereka yang meminum susunya. Bagaimana mungkin malah aku yang minum?

Pada kesempatan lain PK menekankan bahwa masalah di bumi ini terus akan bertambah dan cara mengatasinya bukan dengan memperalat Tuhan minta ini minta itu, melainkan dengan iklim saling membantu pada level kemanusiaan. Artinya? Kebenaran, eksistensi Allah, sebenarnya tidak memerlukan kesaksian manusia. Kesaksian manusia sifatnya horisontal: pada iklim saling bantu, pada level moralitas, dan itu, kita tahu, tidak secara logis terhubung dengan agama atau klaim mengenai Allah.

Kesaksian yang lebih penting yang disebut tokoh sableng kita ini bukan pertama-tama moralitasnya (yang memang baik), melainkan bagaimana kehendak Allah, bukan ideologi diri sendiri, terealisasikan dalam ajang moralitas yang baik itu. Di sini dibutuhkan iman yang bercorak sosial, bukan kesalehan individual.

Tuhan, bukalah hati kami supaya semakin peka pada kehadiran-Mu dalam realitas sosial kami. Amin.


HARI JUMAT ADVEN III
16 Desember 2016

Yes 56,1-3a.6-8
Yoh 5,33-36

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s