Ngrasani Ah

Hari ini terpaksa saya oot (out of topic) mengatakan sesuatu mengenai polemik naif yang kadang terjadi antara umat Kristiani dan umat lainnya berkenaan dengan sebutan Allah yang rupa-rupanya sering menimbulkan salah paham. Saya tidak hendak membela agama Kristiani (Katolik atau Protestan atau apalah) atau membela Kitab Suci orang Kristiani itu, tetapi saya membela cara berpikir yang lebih sehat. Pemicunya ya bacaan hari ini yang kata-katanya cukup keras, tetapi ini jelas bukan wacana Yesus yang sedang menyerang pemuka agama saat itu, karena kata-kata ini dilontarkannya kepada orang banyak dan para muridnya sendiri.

Wacana ini bisa jadi contoh bagaimana ngrasani yang baik #loh… Mana ada sih ngrasani yang baik, Mo? Haha… bergantung bagaimana kita mau mendefinisikannya deh. Menurut saya, kalau setiap omongan mengenai orang ketiga yang absen itu disebut ngrasani, maka ngrasani yang sifatnya terbuka pada kemungkinan hadirnya orang ketiga itu adalah ngrasani yang baik, atau sehat. Artinya, meskipun sedang membicarakan orang ketiga, kalau pembicaraan itu dilakukan secara terbuka sehingga bahkan kalau orang ketiga itu pun hadir pembicaraan tetap berkualitas, itu bukan ngrasani dalam arti negatif. Wis lah gak usah bertele-tele dengan itu. Pokoknya, omongan Yesus itu jadi contoh bagaimana orang perlu belajar dari kekeliruan, kesalahan, keburukan, sisi gelap pihak lain. Tak perlulah terus mencaci mereka demi memakinya, tetapi demi belajar dari kejelekan mereka.

Berusaha meniru kebaikan orang lain tentu bukan hal buruk, begitu juga belajar dari orang yang melakukan kesalahan. Wacana Yesus ini adalah contoh untuk yang terakhir itu: pemuka agama yang ekshibionis atau narsis itu malah mencoreng agamanya sendiri dan tentu saja memperbodoh umatnya (dan celakanya, semakin bodoh barangkali semakin patuh dan manut pada pemuka yang memperbodohnya). Karena itu, seyogyanya orang tidak menaruh fokus pada sosok pemuka agamanya, tetapi pada amanat suci yang disampaikan pemuka agama itu: terima kata-katanya, buang kesaksian hidupnya yang ekshibionis dan narsis!

Njuk yang tadi dibilang sering bikin salah paham itu apa toh? Sepertinya itu berlaku umum untuk semua orang beragama. Lha, itu adalah pesan ketiga yang disampaikan Yesus: janganlah kamu menyebut siapapun bapa di muka bumi ini karena hanya satu Bapamu, yaitu yang di surga. Dari sini cukup bisa dimengerti bahwa Allah Bapa tentu bukan maksudnya Allah adalah sosok bapak sebagaimana bapaknya anak-anak sang suami dari istrinya. Begitu pula dengan sebutan pemimpin, orang tak perlu gila atribut pemimpin karena pemimpin sesungguhnya, dalam terminologi Kristiani, adalah Kristus. Bagaimana ‘Bapa’ dan ‘Kristus’ itu, adakah seseorang yang bisa mengklaim mengertinya secara utuh? Ada. Orang sinting (beda tipis banget dari orang suci)

Orang sinting tidak membaca blog saya dan saya harap, sebagai orang waras, bersama-sama kita saling belajar, memperkaya pengertian yang dilandasi keyakinan bahwa hidup ini bukan milik sendiri, bahwa hidup ini adalah titipan dari, sekali lagi dalam terminologi Kristiani, Sang Bapa dan Kristus tadi.

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami tidak jatuh dalam godaan untuk mengabsolutkan diri kami, keyakinan kami, agama kami, suku kami, dan lain-lainnya yang merupakan sarana untuk memuliakan-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXI A/1
5 November 2017

Mal 1,14b-2,2b.8-10
1Tes 2,7b-9.13
Mat 23,1-12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s