Makan Berapa Piring?

Hari ini saya numpuk paper [atau numpuk baper?] dengan judul Innovative Understanding of Reality (siapa yang nanya’?) tetapi di dalamnya tidak bisa saya masukkan sebagai contoh apa yang diceritakan dalam bacaan hari ini. Bayangkan, Anda mengundang tamu untuk pesta dan setelah kenyang tamu itu berpesan,”Lain kali kalau pesta jangan mengundang sahabat, saudara, kerabat atau tetangga yang kaya dong. Undanglah orang-orang miskin, pincang, lumpuh, buta, cacat dan sejenisnya!” Apa reaksi Anda terhadap tamu itu?
Saya beri waktu satu menit untuk membayangkannya.

Memang sih, bagaimana kita bereaksi akan bergantung juga pada prasangka atau sikap dasar kita terhadap pihak atau objek yang hendak kita tanggapi itu. Bisa jadi pelawak kondang takkan membuat Anda tertawa karena sejak awal Anda tidak suka dengan pelawak kondang itu dan sebaliknya, orang yang sama sekali tak lucu bisa mengundang tawa Anda. Ini untuk mengantisipasi apa yang Anda bayangkan selama maksimal satu menit tadi. Kalau sejak awal sudah saya bilang tamu yang memberi pesan itu adalah Yesus, bisa jadi reaksi Anda malah tidak autentik.

Memang sih, pesan yang disampaikan dalam bacaan ini lebih utuh, sedangkan yang saya kutipkan di situ sudah saya korupsi sedikit. Maksud saya sih sederhana: supaya Anda bisa merasa jengkel juga terhadap Yesus, yang memberi kesan tak tahu terima kasih. Sudah makan kenyang dua piring (buset, makan piring!) kok njuk bilang,”Gak enak makanannya.” Ini lebih lagi: setelah pesta meriah atau bahkan saat pesta itu si tamu malah memberi nasihat yang secara tidak langsung memberi kritik terhadap si tuan rumah! Gimana gak jengkel?

Memang sih [tiga kali sudah], dalam teksnya tidak dikatakan kapan Yesus mengatakannya, apakah ketika ia sedang mencomot buah atau saat mengelus perutnya karena kenyang. Akan tetapi, daripada berspekulasi mengenai apa yang senyatanya dulu terjadi, lebih baik lihat saja teksnya tanpa korupsi. Andaikan saja terjemahannya juga tepat ya: Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.

Apakah kalimat itu hendak mengatakan bahwa orang kaya akan membalas undangan pesta? Iya, diasumsikan begitu. Apakah pada kenyataannya pasti begitu? Ya gak juga‘. Saya pernah mengundang orang kaya pesta dan sampai sekarang dia belum mengundang balik saya tuh, hahaha…. Rumahnya di Jerman sana.
Pesan pokoknya seperti yang sudah disampaikan pada posting tahun lalu dan tiga tahun lalu: tulus ikhlas saja kalau memberi, juga dalam memberikan kepercayaan kepada Tuhan.

Meskipun demikian, karena sudah telanjur menulis judul paper (padahal ya bisa dibusek, Mo) kok ya rasanya baik juga melihat inovasi cara pandang Yesus ini: hidup ini bukan melulu soal mengeruk, mengambil, mendapatkan, mengeksploitasi apalagi, melainkan soal memberikan diri, menebarkan makna, sejauh-jauhnya, seluas-luasnya… sampai ngantuk menyerang mata.

Tuhan, mohon ketekunan dan ketulusan hati untuk membagikan cinta-Mu. Amin.


SENIN BIASA XXXI A/1
6 November 2017

Rm 11,29-36
Luk 14,12-14

Senin Biasa XXXI C/2 2016: Ada Rahmat Malu?
Senin Biasa XXXI A/2 2014: Pilih Kinerja DPR Apa Menteri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s