Selalu Ada Alasan

Omong-omong soal pesta (lagi-lagi bacaannya bahas soal pesta), ada sebagian orang yang begitu terampil membedakan makanan yang enak dan gak enak dan sebagian lagi cuma mengenal enak dan lebih enak. Itu sepertinya juga mirip dengan dinamika hidup kerohanian seseorang. Sebagian orang, mungkin kebanyakan orang, masih berkutat pada problem moral untuk menjauhkan diri dari yang buruk dan memilih yang baik. Sebagian orang cuma bisa memilih yang kurang buruk dibandingkan dengan pilihan buruk lainnya (yang biasa diistilahkan minus malum) dan sebagian kecil lagi begitu serius dengan pilihan antara yang baik dan yang lebih baik lagi.

Apakah itu merupakan tahap perkembangan orang dalam melakukan pemilihan? Tentu tidak. Ya mosok sepanjang hidupnya pilihan orang cuma minus malum terus, atau baik buruk terus? Loh, bukannya memang hidup beriman itu pilihannya cuma antara baik dan buruk, Mo?
Rupanya tidak ya.

Mari kita lihat orang-orang yang diundang dalam pesta pada bacaan hari ini. Mereka semua berdalih. Apakah dalihnya buruk atau tidak penting? Gak juga. Yang pertama punya alasan baru saja beli ladang, mesti melihatnya; kalau tidak bisa-bisa kena tipu. Yang kedua baru membeli lima pasang lembu kebiri dan mau mencobanya (hiii…mencoba lembu kebiri tuh apa sih maksudnya?). Yang ketiga alasannya mungkin lebih mulia: lha baru kawin je (njuk ngopo jal nek lagi wae kawin?). Alasan-alasan ini bisa dianalisis dengan aneka macam kategori, tetapi saya cuma mau mengatakan untuk segala sesuatu bisa dicarikan alasan dan pencarian alasan itu bisa jadi kutuk jika berhadapan dengan panggilan atau kehendak Allah. Ini kelihatan dalam bagian akhir bacaan: bahkan orang dipaksa memenuhi ruangan pesta supaya orang-orang yang diundang tadi gak bisa masuk dalam pesta!

Memang membuat pilihan antara yang baik dan yang lebih baik itu tidak gampang. Itu mengapa tak banyak orang yang bertekun di sana, bukan karena susahnya (karena menentukan minus malum juga bukan perkara gampang, seperti halnya menentukan baik dan buruk), melainkan karena orang memang tidak memberi prioritas atau bahkan perhatian terhadap hidup batinnya di hadapan Allah. Itu mungkin paralel dengan tendensi orang kita yang lebih suka bersibuk ria dengan pendekatan ilmu-ilmu positif daripada bergumul dengan dunia makna. Orang tak piawai menangkap dan mengungkap makna karena dihimpit aneka persoalan mengenai cari jalur sepi untuk bus trans, menentukan sepatu kerja, mencari dalih untuk tidak kena OTT, dan sebagainya sedemikian rupa sehingga tak sempat bertanya kepada diri,”Janjane aku ki ngopo toh?”

Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menempatkan aneka persoalan teknis-praktis tadi sebagai hal yang tidak penting. Sama sekali tidak! Akan tetapi, itu berguna supaya orang menemukan prioritas dengan tolok ukur seperti diindikasikan dalam bacaan hari ini: panggilan Tuhan. Panggilan ini yang semestinya memberi makna kepada seluruh hiruk pikuk hidup orang beriman.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami senantiasa menemukan pilihan yang lebih baik seturut Amrih Mulya Dalem Gusti. Amin.


HARI SELASA BIASA XXXI A/1
7 November 2017

Rm 12,5-16a
Luk 14,15-24

Selasa Biasa XXXI B/1 2015: R.S.V.P.: Bales Dong
Selasa Biasa XXXI A/2 2014: Merpati Tak Pernah Ingkar Janji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s