Selamat Ngobrol

Teks bacaan untuk hari ini senantiasa menjadi misteri yang menarik untuk digali. Bukan teks gampang karena bau-bau teologi sudah tercium di situ, dan kalau sudah berbau teologi, biasanya cenderung eksklusif, bahasanya jadi terbatas. Padahal blog ini maunya gak terbatas [lha kok nekad ngambil teks teologis? Lha pancen bacaannya emang gitu kok].

Pribadi yang dirayakan kelahirannya pada tanggal ini oleh teks itu ditengarai sebagai Firman, alias Sabda, alias dalam bahasa Italianya parola. Saya baru ngeh bahwa kata parola dalam bahasa Italia itu sangat dekat dengan kata kerja parlare. Jangan-jangan dulu-dulunya memang kata parlare itu bentuk singkat dari parolare sebagaimana gejala bahasa Indonesia yang membuat kata benda jadi kata kerja dengan memberi prefiks atau sufiks. Artinya apa to parlare itu? Omong, bicara, berwacana, dan sejenisnya. [Maaf, pakai kata-kata Italia, saya kira Anda suka cappuccino atau espresso macchiato je, tambahi parola gapapa deh, saya traktir!]

Ferdinand de Saussure memang membedakan antara langue dan parole, tetapi berhubung ini bukan blog mengenai strukturalisme, sederhanakan saja bahwa langue itu semacam kompetensi kebahasaan yang memungkinkan orang menangkap makna, sedangkan parole adalah wujud kompetensi itu atau level aktual dari langue [lah, sepertinya kok malah makin susah, Mo. Ya wis, tidur aja toh]. Apakah pembedaan itu relevan, saya tak tahu, tetapi barangkali ada gunanya juga. Kalau gak ada, kenapa juga Saussure mesti ribet dengan hal itu? Mungkin lebay ya.

Sekurang-kurangnya saya bisa memanfaatkan parole tadi dengan padanan kata Italia parola yang jebulnya dipakai penulis teks hari ini untuk memberi atribut kepada pribadi yang diperingati kelahirannya hari ini. Dia adalah parola, bukan teori tata bahasa. Dialah yang memungkinkan Allah mengomunikasikan Diri. Lha memangnya Dia cuma bisa mengomunikasikan diri dengan parola?

Sepertinya iya je. Kalau tidak dengan parolanjuk dengan apa lagi? Dengan langue? Coba bayangkan bagaimana frustrasinya guru bahasa mengajari gramatika dengan aneka metode dan ujung-ujungnya muridnya tak bisa berkata-kata, tak bisa mengucapkan parola, tak bisa omong apa-apa, pating pecothot untuk menjelaskan ini itu, dan sejenisnya!

Apakah parola itu hanya Yesus, kiranya kok juga tidak. Masih banyak parola lain yang disodorkan Allah, dan parola itu bisa hadir dalam setiap orang, entah yang mau merayakan Natal atau yang mengharamkannya. Betul bahwa Yesus jadi parola yang unik, dengan historisitasnya sendiri, tetapi itu tidak hendak menyangkal bahwa hal lain bisa jadi parola di Dio (Sabda Allah).

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat menjadi parola bagi-Mu untuk mengomunikasikan diri dengan semesta. Amin.


HARI RAYA NATAL (SORE)
Senin, 25 Desember 2017

Yes 52,7-10
Ibr 1,1-6
Yoh 1,1-18

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s