Natal Gombal

Kalau agama itu cuma parola atau wacana, seperti sudah disinggung kemarin, orang tentu bisa berdebat tiada habisnya mengenai apa saja. Silakan tilik bagaimana agama-agama membela diri di hadapan rasionalisme, demokrasi, kapitalisme, dan sebagainya. Pasti ada upaya dari agama untuk membela diri bahwa agama cocok dengan rasio, demokrasi, kemanusiaan, dan seterusnya. Dalam Gereja Katolik sendiri ada doktrin mengenai relasi antara iman dan rasio. 

Kalau saja agama itu ajaran moral belaka, dia bisa saja bertarung dengan bentuk hukum perilaku lainnya: LGBT, poligami, kontrasepsi, dan sebagainya. Otoritas agama bisa mati-matian memobilisasi massa, juga dengan legitimasi surga-neraka, untuk menghakimi kelompok non-agama sebagai kumpulan orang-orang laknat. Sebaliknya, kelompok non-agama itu juga bisa melawan dengan membuat aneka tatanan hukum. Contohnya legitimasi perkawinan sejenis.

Maka, pada catatan kemarin memang perlu diberi keterangan tambahan bahwa parola itu adalah parola di Dio (Sabda Allah), yang sudah dengan sendirinya menyadarkan orang bahwa mengenai yang satu itu, orang berhadapan dengan Kebenaran dan tak bisa lagi dia memastikan bahwa Kebenaran mutlak dalam kontrolnya.

Di hadapan-Nya, orang beragama sewajarnya jadi rendah hati, bukannya malah berkobar-kobar melakukan persekusi dan mengeliminasi kelompok lain. Begitu niatan mengeliminasi kelompok lain muncul, pada saat itulah eksklusivisme terpupuk dalam dirinya, dan Allah beranjak meninggalkannya. Stefanus menjadi contoh kelompok pertama, dan Saulus menjadi contoh kelompok kedua.

Meskipun demikian, peristiwa Stefanus dan Saulus ini jadi menarik untuk ditinjau segera setelah Natal karena justru di situlah terdapat relevansi Natal yang jauh dari hingar bingar kelap kelip pernak pernik hiasan hiasin di mall (mill, halah): Kebenaran tak pernah sepi dari perlawanan mereka yang hendak menancapkan kekuasaan atas hidup nan fana ini.

Mawas diri, dengan demikian, berlaku bagi semua orang: semakin ngotot menguasai dunia sini, semakin jauhlah dunia sono yang hadir di dunia sini. Natalan jadi gombal amoh.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu menata dunia sini dengan inspirasi kebenaran-Mu yang lemah lembut tapi berdaya ubah. Amin.


HARI KEDUA OKTAF NATAL
Pesta Santo Stefanus, Martir Pertama
Selasa, 26 Desember 2017

Kis 6,8-10; 7,54-59
Mat 10,17-22

Posting 2016: Kerja Lageee…
Posting 2015: Kesempatan Sempit

Posting 2014: Orang Baik Mati, Kebaikan Tidak

2 replies

  1. romo
    sya ndk tahu parola parlare wacana berwacana (ngga wisa wasa inggris hehhehe..) yg sya tahu cuman celah agama yg sering di manipulasi utk kepentingan atau utk perkembangan jaman atau apalah.. yg sya tahu lewat agama mestinya sya semakin sadar berjalan utk menemukan kebenaran yg mutlak dan hQQ dn mungkin bisa bertemu dengan org lain yg beda agama atau beda pemahaman … tentu sya bisa salah..

    Like

    • Halo Om HPI, met natal ya. Saya kira betul ya lewat agama orang dibimbing untuk menemukan kebenaran hakiki itu; tetapi sekarang makin kentara bahwa kebenaran hakiki ditemukan dalam relasi juga mereka yang berbeda sudut pandang. Tidak gampang, tapi mana pernah nabi mengatakan bahwa perkaranya gampang ya, hehe… Salam

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s