Kerja Lageee

Sudah lazim bahwa orang cenderung ingin memperpanjang masa indah dan memperpendek masa susah, berlama-lama dengan saat girang dan tergesa-gesa dengan saat gamang, mengejar momen excited dan menjauhi momen unexcited. Dari porsi yang disodorkan kalender liturgi Gereja Katolik untuk masa Natal bisa ditangkap tendensi sebaliknya: cuma dua minggu untuk masa Natal (bandingkan dengan tujuh minggu untuk masa Paska) dan hari Natal ‘kedua’ justru merupakan hari kemartiran, alih-alih hari perpanjangan untuk pesta Natal. 

Stefanus adalah salah satu dari tujuh diakon (tidak sama dengan prodiakon) yang dipilih jemaat karena kesaksian hidup mereka dan mendapat tugas dari para rasul untuk merawat orang-orang miskin dengan kemurahan hati dan lebih-lebih untuk mewartakan gaya hidup yang didapat dari role model yang kemarin diperingati hari lahirnya. Ia bernasib sama dengan role modelnya: dibunuh karena ketidaksukaan orang pada konsekuensi Kebenaran yang hendak merealisasikan Diri.

Tentu Stefanus bukan satu-satunya orang beriman yang bernasib sama dengan role model itu. Juga pada zaman sekarang, dari berbagai agama muncul orang-orang yang bertekun dengan Kebenaran (yang lebih besar daripada doktrin atau ajaran agama) dan mesti menanggung risiko serupa: diteror, dikriminalisasi, dihujat, difitnah, dan bahkan dibunuh. Ini menunjukkan bahwa apa yang dialami Stefanus bukanlah kenyataan eksklusif agama manapun.

Iman tidak identik dengan tatanan moral, betapapun mulianya tatanan moral itu. Iman bukanlah ketaatan buta terhadap hukum yang dianggap begitu suci. Iman bukanlah pembelaan prinsip-prinsip intoleran yang tak bisa dinegosiasi sama sekali. Memang bisa jadi iman berkaitan dengan tatanan moral nan mulia, hukum suci, dan prinsip-prinsip umum yang tak bisa ditawar, tetapi iman tak bisa diidentikkan dengan hal-hal itu karena iman adalah soal relasi dengan Dia yang mengatasi hal-hal itu. Relasi ini membawa konsekuensi bagi orang untuk membagikan hidupnya seperti role model tadi. Konsekuensi membagikan hidup ini bisa sedemikian serius bahkan sampai dalam level hidup atau mati.

Kita ingat kinerja aparat keamanan dan sukarelawan semacam Banser NU (maaf menyebut merk) dan elemen masyarakat lainnya yang hendak menjaga kerukunan bangsa. Kita tak bisa mengabaikan peran Densus 88 (eaaa merk lagi) yang menggagalkan aksi terorisme yang mencoreng nama agama, Islam khususnya. Tentu ada pihak-pihak lain yang lebih subtle lagi kinerjanya dalam membela Kebenaran dan sedang berjuang melawan tirani kejahatan. Di situ, orang bisa becermin (bukan typo loh ini): nilai apa yang dipertaruhkan orang dalam hidupnya. 

Tuhan, mohon ketekunan hati untuk membagikan cinta-Mu. Amin.


HARI KEDUA OKTAF NATAL
Pesta Santo Stefanus, Martir Pertama
Senin, 26 Desember 2016

Kis 6,8-10; 7,54-59
Mat 10,17-22

Posting Tahun Lalu: Kesempatan Sempit
Posting Tahun 2014: Orang Baik Mati, Kebaikan Tidak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s