Awas Nyangkut

Saya ingat bagaimana seorang ustad menutup kotbahnya secara sederhana. Saya lupa detil kata-katanya tetapi saya ingat poinnya: kebenaran mutlak ada pada Allah dan kekeliruan sepenuhnya milik saya. Ini poin yang saya pegang juga untuk mengerti bagaimana orang beriman memandang sejarah hidupnya: ada lapisan medan kerja Allah yang berjalan seiring dengan medan kerja manusia. Kalau dua lapisan itu secara utuh bersinggungan sepanjang segala abad, kelar idup loe! Kenapa? Karena tak ada lagi medan hidup yang tak terjamah kehendak-Nya. Orang hidup, bukan lagi dia yang hidup, melainkan kehendak Allah yang terealisasikan di dunia ini. Orang berfokus pada kehendak-Nya dan tak temangsang (nyangkut) pada sarana-sarana yang dipakai Allah untuk merealisasikan kehendak-Nya itu: biarlah aku semakin kecil dan Dia semakin besar.

Kata tetangga sebelah: menghindari kedangkalan dan sentimentalitas iman berarti juga mengakui aneka kenyataan sebagai sarana Allah menyatakan Diri. Apa kalimat itu bisa dipahami? Entahlah, tetangga saya itu mungkin memang hidupnya di bawah langit yang berbeda. Kalau menurut pendapatan saya sih, semakin bermutu olah rasa-nalar-kehendak dalam iman, orang semakin mudah melihat bahwa di balik aneka kenyataan hidup itu ada kehendak Allah yang senantiasa ngawe-awe (isyarat tangan untuk memanggil orang supaya mendekat). Begimana itu? Dalam bahasa rohani Ignasius dari Loyola, itu terefleksikan dari bagian doa yang mengundang orang untuk menjawab tiga pertanyaan: apa yang sudah kulakukan bagi Tuhan, apa yang sedang kulakukan untuk Tuhan, dan apa yang akan kulakukan bagi Tuhan.

Hidup Yohanes yang dipestakan Gereja Katolik hari ini bisa mempersaksikan dinamika iman seperti itu. Dalam teks hari ini dikisahkan bagaimana dia “melihatnya dan percaya”. Ngeri, ini level ‘tinggi’: percaya ‘hanya’ dengan melihat. Teman-temannya tidak otomatis tiba pada kepercayaan meskipun melihat kenyataan yang sama dengan kenyataan yang dilihat Yohanes. Maklum, Yohanes menangkap perspektif cinta dalam hidup berimannya. Begimana sih itu, Rom? Ga’ jelas amat!
Para murid lain tidak otomatis memiliki kepercayaan karena mereka masih terbelenggu oleh keterpukauan mereka sendiri terhadap sarana yang dipakai Allah untuk menyatakan Diri-Nya. Mereka belum mengatasi rasa takut kehilangan sampai pada saat benar-benar kehilangan. Memang susah! Bagaimana tidak? Andaikan orang yang setiap hari senantiasa bersama Anda dan tiba-tiba hari ini hilang begitu saja, pasti ada rasa sumedhot, seolah terputus begitu saja. Rasa itu bisa mendominasi dan membutakan Anda dari pesan tersembunyi yang dibawa oleh orang yang tiba-tiba absen dari hadapan Anda. Apa pesan tersembunyinya? Cinta Allah.

Para murid lain kesulitan menangkap pesan itu karena hati mereka masih tertambat Yesus historis yang selama tiga tahun terakhir mengubah hidup mereka, membuat hal-hal ajaib, menyembuhkan orang, dan sebagainya. Dengan habisnya Yesus historis nan sableng itu, habis pula cinta Allah, nonsense alias omong kosong! Syukurlah, Yohanes tidak memakai perspektif itu. Habisnya Yesus historis justru membuatnya percaya bahwa yang dikatakannya sewaktu masih hidup itu benar adanya. Ia tak ambil pusing dengan habisnya Yesus historis itu (yang jadi bahan perdebatan orang-orang sesudahnya sampai sekarang), ia menangkap cinta Allah dan itulah yang membuatnya percaya.

Ya Allah, mohon kejernihan hati supaya kami tetap bisa fokus pada cinta-Mu lebih daripada hal-hal lain. Amin.


PESTA SANTO YOHANES PENGINJIL
(Hari Ketiga dalam Oktaf Natal)
Selasa, 27 Desember 2016

1Yoh 1,1-4
Yoh 20,2-8

Posting Tahun 2014: Akselerasi Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s