Beternak Herodes

Demi mengeliminasi bayi Yesus, yang dianggapnya sebagai ancaman, Herodes memerintahkan semua bayi dibunuh. Logis juga sih, kalau semua bayi dibunuh, bayi yang dinamai Yesus pun dibunuh. Si pembunuh gak perlu ambil pusing manakah bayi yang dinamai Yesus. Herodes mungkin tak akrab dengan cerita bagaimana Musa dulu lolos dari tragedi pembunuhan bayi laki-laki pada masa Firaun. Herodes mungkin tak paham bahwa hidup ini bukan cuma logika.

Karena sosok yang ditampilkan itu mengerikan, bisa jadi pembaca tidak melakukan asosiasi dengan sosok Herodes. “Ah, saya gak seperti itu.” “Kalau saya jadi Herodes, saya takkan melakukan tindakan keji itu.” [Herannya, juga kalau disodorkan sosok yang berkebalikannya, orang bereaksi serupa: ya saya kan bukan orang kudus. Njuk kowe ki arep dadi apa ta Le?] Boleh saja orang bersumpah bla bla bla, tetapi hidup ini tak dibangun oleh sumpah ciptaan, apapun nama sumpahnya. Mari lihat klip video berikut ini.

Ini bisa dianggap sepele: orang dewasa merebut foul ball dari tangan anak-anak. Untuk sebagian orang, itu sepele dan tak ada masalah. Cuma anak-anak, cuma satu orang, cuma sekali-sekali, dan seterusnya. Pokoknya, ini soal kuantitas. Pada gilirannya, kuantitas yang semakin besar pun tetap akan jadi ‘cuma’ seiring dengan tendensi orang yang tak pernah puas dengan yang dimilikinya. Banalisasi kehidupan macam inilah yang dihayati Herodes dan ‘Herodes’ pun tak pernah mati.

Manifestasi Herodes itu terpampang pada media di negeri ini: mereka yang berusaha merenggut kuasa bukan dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang tecermin (ini bukan typo loh ya) dalam program, melainkan dengan upaya mengeliminasi, membunuh karakter orang lain. Wujud Herodes itu juga tampak pada mereka yang rebutan mainan, yang hendak memecahkan persoalan tetapi bermain dalam level yang sama dengan lawan atau bahkan lebih rendah: balas-balasan. Berbalas pantun masih mendingan, berbalas penistaan itu menjijikkan. Jelas, bukan, bahwa agama, apapun namanya, tidak secara logis menjamin moralitas (apalagi kalau pemeluknya cuma doyan yang superfisial, maniak atribut)?

Ehm… Romo ini lagi nyindir ya?
Nyindir siapa?
Ah, Romo ngaku aja deh!
Ya memang nyindir: mereka yang sibuk dengan wacana kekuasaan di tengah-tengah permasalahan konkret yang menimpa bangsa kita ini. Saya duga Human Development Index bangsa kita masih ada di urutan 100-an (bdk. laporan tahun lalu), belum beranjak jauh dari status negara berkembang.

Herodes benar-benar takut posisinya terancam (makan tuh posisi!). Herodes baru, jadi algojo bagi anak-anak, bagi orang lain. Ketakutan, itulah nama keengganannya untuk menyelamatkan kehidupan anak-anak. Padahal, gak ada juga yang memaksa orang untuk memberikan 80% pendapatannya untuk mengasuh anak-anak terlantar; gak ada juga yang memaksa orang untuk memberikan empat juta dari 40 juta gajinya bagi pendidikan anak-anak miskin. De facto, orang takut beranjak karena jadi Herodes memang lebih enak, bisa eksis.

Kebanyakan ketakutan adalah buah ‘pendidikan’, buah conditioning, buah nurturing, bukan bawaan dari sono. Barangkali Herodes, entah lama entah baru, dibesarkan dengan momok ketakutan, ditakut-takuti, dan hasilnya jadi teror bagi orang lain. Mungkin bangsa kita ini sudah terlalu lama beternak ketakutan Herodes.

Ya Allah, lindungilah bangsa kami dari perpecahan horisontal yang membahayakan kerukunan yang dirintis pendahulu kami. Amin.


PESTA KANAK-KANAK SUCI
(Hari Keempat Oktaf Natal)
Rabu, 28 Desember 2016

1Yoh 1,5-2,2
Mat 2,13-18

Posting Tahun Lalu: The Source Awakens

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s