Antara Angan dan Harapan

Pada semester lalu saya membuat pengamatan terhadap para mahasiswa dengan meminta mereka mengambil makna atau pesan dari suatu teks sastra. Sejumlah 99,9999999% mengungkapkan pesan atau makna dengan rumusan normatif: jangan begini, harus begitu. Ini sangat menarik karena saya juga punya dugaan lain bahwa orang-orang muda tak suka mendengarkan ceramah atau kotbah yang berbau moralistik. Apalagi kalau itu disampaikan dalam rangka memarahi atau menegur: jadi anak itu mbok ya tahu diri, jangan gampang emosi, harus rajin, jangan bermalas-malasan saja, harus tahu prioritas, bla bla bla.

Tapi namanya juga manusia, gak suka dinganu tidak berarti gak suka menganu. Meskipun tak senang diberi nasihat moral, pada giliran membeberkan makna, yang keluar dari orang muda ya sama saja dengan yang diberikan kepada mereka: aneka nasihat dan pesan moral. Contoh yang saya pakai adalah cerpen Robohnya Surau Kami dan makna yang diungkapkan oleh 99,9999999% mahasiswa tadi berupa anjuran moral: jangan mudah percaya omongan orang, jadi orang jangan cepat tersinggung, jadi orang tuh mbok sabar [emangnya merk ayam].

Hal serupa bisa terjadi pada bacaan hari ini: Simeon yang benar dan saleh menantikan kehadiran penghiburan bangsa Israel dan setelah ia melihat wajah keselamatan itu, ia pun siap dihampiri malaikat pencabut nyawa [hiii]. Ia sabar menanti, dan pembacanya bisa mengambil makna moral serupa dengan yang tadi: jadi orang tuh ya yang sabar gituloh, jangan emosian.

Kisah manula Simeon ini mengajarkan, sekurang-kurangnya kepada saya, bahwa harapan, juga meskipun tak terealisasikan segera, pada saatnya akan terealisasi [Ini makna yang tak terdengar moralistik, bukan?]. Kalau tak terealisasi ya berarti bukan harapan namanya, melainkan angan-angan belaka. Simeon punya angan-angan bahwa sosok penyelamat itu adalah sosok superpower. Itu tak terealisasikan. Harapannya terealisasi: sosok biasa yang menjadi tanda yang bisa menimbulkan perbantahan karena setiap orang mesti menentukan pilihan, keberpihakan atas apa yang diserukannya.

Bahwa untuk menunggu realisasi harapan itu dibutuhkan kesabaran, iya, tetapi arti kesabaran pun baru bisa digali dari terang harapan itu sendiri: kualitas hidup orang yang tekun memisahkan angan-angan dari harapan sejatinya. Orang yang gak sabaran pada umumnya mencampuradukkan harapan dan angan-angan. Ia punya harapan akan hidup bahagia tetapi membiarkan angan-angannya berkembang tiada henti: punya bini artis Hollywood, punya kolam renang pribadi di rumah, punya mobil mewah segala merk, dan seterusnya. Ia mengharapkan cinta tetapi mendekorasi angan-angan romantisnya dengan aneka impian nan fantastik: gadis pujaan di balik pohon atau tiang India, merebut istri/suami orang dan kabur, dan sebagainya.

Simeon punya kesabaran karena harapannya senantiasa terkoreksi oleh kenyataan konkret. Artinya, harapan itu terhubung dengan dunia konkret yang memungkinkan adanya otokritik. Harapan takkan hancur karena kegagalan atau kekeliruan. Orang kehilangan kesabaran karena angan-angannya dibuyarkan oleh kenyataan hidup dan ia mau hidup dari angan-angan.
So, begitulah kira-kira makna yang bisa saya gali dari kisah Simeon, tetapi saya takkan memberi nasihat supaya Anda sabar seperti Simeon. Kalau orang menangkap makna, ia tak butuh nasihat kecuali untuk hal-hal teknis.

Ya Tuhan, bantulah kami dengan Roh-Mu supaya kami mampu membedakan harapan sejati dari angan-angan egoistik kami. Amin.


HARI KELIMA OKTAF NATAL
Kamis, 29 Desember 2016

1Yoh 2,3-11
Luk 2,22-35

Posting Tahun Lalu: The Art of Waiting
Posting Tahun 2014: Kere Munggah Bale

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s