The Art of Waiting

Hidup kita ini seperti nunggu giliran. Giliran merem dan melek, giliran lapar dan makan, giliran nganggur dan sibuk, giliran sakit dan sehat, sekolah dan main, dan aneka giliran lainnya. Memang tidak semua orang mendapat giliran yang sama dengan orang lainnya. Ada yang giliran tidurnya lebih panjang daripada kerjanya. Ada yang giliran rondanya lebih lama daripada yang lainnya. Ada yang mendapat giliran jadi presiden dan tentu jauh lebih banyak yang tidak mendapat giliran jadi presiden di dunia ini. Pokoknya, semua orang hidup itu menunggu giliran. Yang membedakan orang satu dari yang lainnya ialah apa yang dibuatnya selama menunggu giliran mati.

Teks Lukas hari ini menunjukkan Simeon yang mendapat giliran tugas di Bait Allah dan jelaslah dari teks itu bahwa ia tampak sedang menanti-nantikan sesuatu dan sesuatu itu dinantikan dalam waktu yang sangat panjang, sepanjang usianya. Ia seperti hendak menunda giliran mati sampai yang dinantikannya tiba. Rupanya, memang yang dinantikannya itu tiba di penghujung hidupnya. Ia mengetahui hal itu sehingga ia berseru supaya Tuhan memperkenankannya berpulang dalam damai sejahtera. Ia melihat keselamatan itu dalam diri bayi yang dipasrahkan kepadanya, hal yang tak dilihat oleh banyak orang lain.

Kisah Simeon, pelindung orang yang menunggu giliran, seolah mengajarkan bahwa harapan kepada Tuhan, betapapun tidak sak dhet sak nyet, suatu saat pasti terpenuhi. Bentuk pemenuhannya bisa jadi tak cocok dengan apa yang bisa kita bayangkan, tapi pokoknya harapan itu terpenuhi. Dari sosok tua renta Simeon ini orang bisa belajar seni menunggu giliran, seni hidup dalam penantian. Seni macam ini tak bisa dikuasai dengan kepatuhan kaku terhadap hukum (agama), kecuali jika hukum itu dimaksudkan sebagai Roh yang memungkinkan Simeon melihat keselamatan dalam sosok pribadi yang pada umumnya diabaikan oleh orang lain.

Konkretnya dibahas dalam bacaan pertama. Agama-agama tidak memberi perintah yang lebih baru daripada yang ditanamkan Tuhan di kedalaman hati orang. Mereka cuma merumuskan (yang seringkali malah bisa membingungkan atau bahkan menyesatkan) goresan cinta Allah dalam hidup manusia. Kegagalan menangkap goresan itulah yang bikin aneka perkara di antara pemeluk agama sendiri. Goresan cinta Allah memberi terang hidup dan indikator terang itu ada bagaimana orang mencintai sesamanya, bukan barang atau anu sesamanya.

Ya Tuhan, semoga masa penantianku dipenuhi terang-Mu. Amin.


HARI KELIMA OKTAF NATAL
Selasa, 29 Desember 2015

1Yoh 2,3-11
Luk 2,22-35

Posting Tahun Lalu: Kere Munggah Bale

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s