Klik Share Dong

Pada pesta Yohanes Penginjil ini, saya teringat kisah nyata yang tak ingat lagi dari buku mana yang saya baca seperempat abad lalu. Saya duga bukunya John Powell (cocoklah, Yohanes).

Sebutlah Thomas, mahasiswa ateis beragama entah (kemungkinan besar Katolik). Dia terpaksa ikut mata kuliah wajib teologi. Ini jadi ganjalan baginya tetapi kehadirannya di kelas itu juga jadi duri bagi dosennya. Di akhir semester Thomas menyerahkan paper akhirnya sembari berkata sinis,”Apa kamu kira aku akan menemukan Tuhan dengan ini semua?”
Si dosen menjawab,”Oh sama sekali tidak!”
Thomas menimpali,”Oh ya? Kukira itu sasaran mata kuliah ini.”

Sang dosen mendiamkan Thomas berbalik, tetapi sebelum Thomas sampai pintu, ia memanggil Thomas. “Kukira kamu tidak akan menemukan Tuhan, tapi aku yakin Dia pasti akan menemukanmu.”

Beberapa tahun kemudian Thomas lulus kuliah, tetapi tak lama kemudian terdengar berita bahwa Thomas terkena kanker stadium terakhir. Sebelum sang dosen merealisasikan niat untuk menjumpai Thomas, mantan mahasiswanya itu datang ke kantornya dengan perawakan yang jauh berbeda: tak ada lagi rambut, kurus kering, tapi dosen ini melihat mata Thomas lebih berbinar.

“Thomas, kudengar kamu sakit berat?”
“Betul. Dua paru-paruku terkena kanker. Aku masih punya waktu beberapa minggu lagi.”
“Turut prihatin, tapi bolehkah aku tahu gimana rasanya semuda kamu tinggal punya waktu hidup beberapa minggu?”
“Oh ini masih mendingan,” sahut Thomas, “Daripada hidup lima puluh tahun tanpa nilai dan berpikir seolah-olah main perempuan atau mengakumulasi duit sebanyak mungkin adalah bisnis terbesar dalam hidup ini.”

Sang dosen kepo. Rupanya Thomas sudah lama menderita kanker sebelum kuliahnya. “Kamu tahu rasanya berusaha keras dengan berbagai cara dan tak memperoleh hasil? Kamu bisa bosan berusaha dan secara psikis frustrasi dan lalu give up! Itu juga yang kualami sewaktu tahu bahwa aku punya kanker dan ternyata tak kutemukan Tuhan. Itu mengapa di akhir kuliah aku berkomentar sinis apakah kamu kira aku akan menemukan Tuhan. Aku sudah tak punya kepercayaan lagi sebelum itu.”

Sang dosen menyimak. “Aku tak lagi peduli soal eksistensi-Nya, soal hidup setelah kematian, atau soal-soal seperti itulah. Aku cuma berpikir untuk mengisi hidupku dengan hal-hal yang menguntungkan.”
Sang dosen tak menyahut.
“Saat itu aku ingat pernyataanmu di waktu lain: kesedihan esensial ialah mengalami hidup tanpa cinta. Akan tetapi, sama sedihnyalah mengalami hidup ini tanpa bisa menyampaikan cinta kepada orang yang memang kita cintai. Dan aku memulainya dengan sosok tersulit bagiku: ayahku.”

Sang dosen semakin kepo. Thomas menceritakan bagaimana suatu hari ia hanya ingin menyatakan bahwa ia menyayangi ayahnya, yang sedang baca koran dan tak begitu peduli dengan niat Thomas untuk bicara. Mendengar pernyataan Thomas, sang ayah memeluknya dan menangis, hal yang tak pernah dilakukannya kepada Thomas dan Thomas merasakan itulah hal terindah dalam hidupnya. Pada momen itu ia mulai melihat bahwa Tuhan hadir, pada saat ia bahkan tak memikirkan-Nya.
“Kamu betul, aku tak menemukan Allah. Dia menemukanku.”

Akhirnya sang dosen buka mulut juga,”Thomas, kupikir kamu mengatakan bahwa cara terbaik untuk menemukan Allah bukanlah dengan menjadikan-Nya milikmu seorang, sebagai problem solvermu, melainkan dengan membuka diri pada Cinta.”

Kemudian sang dosen memohon Thomas untuk membagikan refleksinya di depan kelasnya. Thomas menyanggupinya dan mereka membuat appointment,  tetapi beberapa jam sebelum itu terjadi, Thomas punya appointment yang lebih agung. Ia sempat menyampaikan permohonan supaya pengalamannya dibagikan kepada mahasiswa lain.

Thomas tidak meminta saya untuk membagikan pengalamannya, tetapi kalau Anda tergerak silakan klik share. Jangan khawatir, Anda tidak akan mendapat celaka kalau tidak klik share dan jangan mengharapkan rezeki berlimpah ruah dalam seminggu ini jika Anda klik share bagi sepuluh teman Anda. Percayalah, itu takhayul murahan.

Ya Allah, tambahkanlah kekuatan kami untuk mencinta lebih daripada hasrat untuk dicintai. Amin.


PESTA SANTO YOHANES PENGINJIL
(Hari Ketiga dalam Oktaf Natal)
Rabu, 27 Desember 2017

1Yoh 1,1-4
Yoh 20,2-8

Posting 2016: Awas Nyangkut
Posting 2014: Akselerasi Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s