Kayak Sinetron

Ibu manakah yang makan pempek tidak menangis? Entahlah, belum pernah saya survei, tetapi saya memang terheran-heran melihat seorang ibu yang menangis sesenggukan di ruang makan. Tidak sedang mengupas bawang merah, tidak juga sedang kelilipan, hanya sedang makan pempek. Katanya kuah pempeknya pedas sekali. Saya percaya saja karena bisa saya bayangkan kalau saya gigit cabe rawit pun mata saya bisa berair. Tapi kok bisa sesenggukan ya? Heran saya berakhir ketika saya tahu di depan ibu ini ada monitor TV yang sedang menayangkan S I N E T R O N !!! Ya ya ya, ibu mana yang tak menangis melihat adegan perempuan baik-baik dan anaknya diperlakukan kasar oleh suami dan selingkuhannya, bahkan meskipun itu hanya ada dalam sinetron.

Teks bacaan hari ini memang bukan skrip sinetron. Maka dari itu dijamin ibu-ibu pun takkan menangis hanya karena membacanya, meskipun di situ ada adegan keji yang melebihi kekejian adegan sinetron: bayi-bayi yang belum sempat berdosa dibunuh. Mungkin ‘cuma’ puluhan bayi yang dibunuh, tapi tidak dikisahkan bagaimana perlakuan terhadap perempuan yang menjaga bayi-bayi itu. Ngeri-ngeri tidak sedap membayangkannya.

Saya menduga para pembunuh bayi-bayi itu ialah mereka yang tidak mengenal Cinta sebagaimana diinspirasikan dari cerita kemarin. Asumsi saya, tak kenal Cinta, tak kenal Allah. Dengan demikian, tak ada masalah dengan bunuh-bunuhan; dengan kematian, selesailah sudah persoalan, dengan membunuh nyawa orang lain, terbebaslah aku dari tanggung jawab, dan seterusnya.

Tangisan, luka, kematian bukanlah kuburan akhir hidup manusia. Bahkan salib, mau dimaknai bagaimanapun, bukanlah akhir kehidupan. The show must go on. Penderitaan, luka, tangis, kematian menjadi jalan bagi Allah untuk memberi harapan sejati dalam setiap hati manusia. Apakah ini bukan berarti para koruptor, pembunuh, penjajah itu jadi tokoh yang berjasa mempersiapkan jalan bagi Allah? Asik banget dong bisa korup dan menindas orang lain atas nama Allah! Betul, tapi sayangnya itu justru jadi indikator kuat bahwa orang-orang macam itu tak mengenal Allah.

Loh, Romo ki mbingungi. Tadi katanya derita jadi jalan Allah untuk memberi harapan sejati, lha kok penindas yang memungkinkan adanya penderitaan malah dibilang tak mengenal Allah! Sudah capek-capek bikin penderitaan orang lain je!
Lha ya persis di situ problemnya: dia bikin penderitaan, bukan harapan, dia menebar ketakutan, bukan cinta, dia beternak kepastian, bukan iman.

Kalau seorang ibu mengenal Allah, tentu dia tak membunuh anaknya sendiri [tapi anak orang lain, husss!!! Ngawur!]. Bahkan jika ia terbelit kemiskinan ekstrem, ia masih bisa menyerahkan anaknya kepada siapapun yang kiranya bisa merawat anaknya. Pun kalau saking miskin dan sakitnya ia tak bisa menyerahkan anaknya kepada orang lain, yang membunuh anaknya bukan dia, melainkan kemiskinan ekstrem itu sendiri, yang tak lain adalah struktur sosialnya.

Memang pada gilirannya, struktur sosial ini bisa juga menjauhkan orang dari pengenalan akan Allah: mulai dari klinik illegal sampai hukum yang melegalkan aborsi bagi mereka yang ingin membunuh bayinya.

Ya Tuhan, bebaskanlah kami dari ketakutan untuk merealisasikan harapan akan cinta-Mu dalam ketidaksempurnaan hidup kami. Amin.


PESTA KANAK-KANAK SUCI
(Hari Keempat Oktaf Natal)
Kamis, 28 Desember 2017

1Yoh 1,5-2,2
Mat 2,13-18

Posting 2016: Beternak Herodes 
Posting 2015: The Source Awakens

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s