Generasi Now

Kesenjangan generasi bisa menyulitkan komunikasi antargenerasi dan hasilnya bisa lucu, menggelikan, tapi juga bisa membahayakan atau menjadi ancaman [lha nek ngono wae rasah omong bab beda generasi, komunikasi pada umumnya kan juga begitu]. Silakan tilik relasi Rossi-Marquez pada MotoGP atau nanti relasi Ronaldo-Mbappe di liga Champions. Yang semula ngefans kemudian bisa berubah jadi bernafsu besar untuk mengalahkan idolanya. Lha ya cetha wong namanya juga pertandingan, mosok hanya karena ngefans njuk membiarkan idolanya menang begitu saja.

Teks bacaan hari ini mempertemukan dua generasi bukan dalam rangka pertandingan, melainkan di luar rangka pertandingan (apa sih?). Yang satu uzur, dekat liang kematian, yang lainnya belum lama nongol dari liang kelahiran. Bahwa yang uzur ini memuliakan yang baru lahir, tentu bukan hal baru, dan tidak hanya berlaku pada bayi Yesus. Bagaimana perlakuan bayi terhadap pihak yang uzur selain owek-owek? Entahlah, tapi yang jelas si bayi ini kelak memang memenuhi harapan si uzur.

Apakah bayi itu hidup demi memenuhi harapan si uzur? Ya dan tidak. Ya, sejauh harapan si uzur itu merepresentasikan kehendak ilahi. Tidak, dalam arti harapannya berisi kemauan egoistik si uzur. Wuih, kok sepertinya kejam sekali toh seolah-olah orang tua itu tak boleh mengharapkan kepentingan dirinya terpenuhi? Ya sebetulnya bukan begitu sih. Orang tua pun, sebesar apapun jasanya, tetap hidup dalam genggaman ilahi. Maka, kepentingan dirinya tetaplah diletakkan dalam genggaman ilahi itu.

Genggaman ilahi ki opo to Mo, mbok omong ki ya sedikit lebih jelas kenapa? Ya maap, saya kan sedang retret, banyak hal yang muncul itu bahasanya abstrak karena yang konkret-konkret diberi tambahan ‘ilahi’. Jadi mohon salahkan yang ilahi itu, haha.

Di wilayah gelap tentang bagaimana generasi baru memperlakukan generasi lama, baiklah direfleksikan bagaimana masyarakat memandang generasi tua: taruh di rak gudang saja, tiada guna. Ini jelas bertolak belakang dengan pandangan Kitab Suci terhadap generasi lama. Teks sebelum bacaan hari ini menyodorkan tokoh generasi lama juga: Zakharia dan Elisabet, dengan kisah unik mereka. Bersama mereka, Simeon adalah orang ‘pertama’ yang menjumpai bayi Yesus dalam kesadaran akan penantian Mesias dan Mesias itu menjadi penghibur, pembawa konsolasi bagi orang-orang uzur, dan dari konsolasi itu muncul puisi pujian.

Juga dari orang-orang uzur, generasi baru (mestinya) bisa melihat kebijaksanaan dari puisi pujian itu. Mungkin itulah pesannya bagi generasi baru (tak usah menyebut muda): pada saat membawa konsolasi bagi generasi tua, generasi baru juga menerima kebijaksanaan yang muncul dari rentang pengalaman hidup yang begitu lama. Pun jika generasi tua itu sudah menunjukkan kelinglungannya, amnesia, dan lain-lainnya: treatment terhadap mereka bisa jadi tolok ukur apakah generasi baru memang membawa konsolasi atau malah desolasi.

Ya Tuhan, mohon rahmat kesetiaan supaya kami mampu membawa penghiburan dari-Mu bagi generasi pendahulu kami. Amin.


HARI KELIMA OKTAF NATAL
Jumat, 29 Desember 2017

1Yoh 2,3-11
Luk 2,22-35

Posting 2016: Antara Angan dan Harapan
Posting 2015: The Art of Waiting

Posting 2014: Kere Munggah Bale

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s