Mbok Jadi Manusia

Yang menyanyi kemarin, Simeon. Hari ini, Hana. Apakah memang dalam sejarahnya mereka menyampaikan nyanyian pujian bagi bayi Yesus? Ya mboh, emang gue pikirin! Kalaupun gue mikir, malah bisa gue tanyain ke eloemangnya cuma dua orang itu yang melantunkan puisi pujian?

Penulis Lukas bukan orang yang buta mengenai hukum Yahudi dan dulu bukanlah era post-truth seperti zaman now. Fakta jauh lebih penting daripada opini tetapi fakta baru sahih kalau disokong dua saksi. Tak mengherankan bahwa Lukas menyodorkan dua sosok: Simeon dan Hana. Mereka ini jadi saksi akan harapan umat beriman kepada Allah yang direalisasikan dalam sosok Mesias.

Apakah mungkin harapan kepada Allah kok diletakkan pada sosok manusia? Bukankah itu akan rentan PHP? Memang rentan! Akan tetapi, kerentanan itu tidak sama dengan kemustahilan. Kalau orang memikirkan kemustahilan, ia berfokus pada kemanusiaannya, bukan pada daya ilahinya. Maka dari itu, apa yang ditulis Lukas pun rentan: benar adakah dua sosok itu, benarkah mereka datang ke Bait Allah dan menyampaikan kidung pujian bagi bayi Yesus, dan sebagainya.

Entah hal-hal itu benar atau tidak, Lukas menyajikan hal yang tak bisa digoyahkan hanya oleh utak-atik-otak: bahwa harapan umat beriman kepada Allah itu akhirnya dicicil juga realisasinya dalam sosok manusia. Maka, pesannya ada di situ: bagaimana sosok manusia dapat menampung harapan yang ditumpukan kepada Allah. Pesan dalam rupa pertanyaan itu tidak semakin mudah ditanggapi secara positif.

Ambillah contoh kasus di tempat saya tinggal sekarang ini. Andaikan saya non-pribumi tapi kulit tak putih dan mata tak sipit dan anak-anak saya cowok semua dan saya punya uang sekian puluh juta. Di sini saya bisa beli perempuan untuk jangka waktu tertentu dan perempuan itu bisa diperlakukan bagaimanapun dan sebelum expiration date, bisa saya jual ke saudara atau tetangga non-pribumi seperti saya. Penerimaan perempuan tak bertambah sementara saya tidak rugi bahkan bathi karena bisa menjual dengan harga lebih tinggi.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa perempuan itu secara pribadi menderita ketidakadilan karena ia tidak menerima tambahan meskipun punya majikan baru. Ia menerima bayaran secara adil sesuai kesepakatan. Akan tetapi, ia menderita ketidakadilan sosial karena posisinya sebagai perempuan terinjak-injak oleh orang non-pribumi seperti saya. Mau apa lagi, ekonomi rendah, buta huruf, iming-iming iklan dan lain sebagainya lebih menggiurkan.

Kepada siapakah harapan bisa ditumpukan? Pemerintah? Ini sudah abad ke-21, merdeka 62 tahun, ternyata ya masih ada mentalitas budak. Agama? Mau tambah berapa agama lagi supaya mentalitas perempuan-perempuan seperti kasus itu tadi (pasti bukan satu-satunya) tak berkembang subur? Mau jadi apa bangsa ini kalau orang-orangnya tertipu oleh birokrasi, agama, koruptor, dan sebangsanya?

Saya memang geram. Pesan Lukas tetap saya ingat: bagaimana sebagai manusia orang bisa merealisasikan harapan yang ditumpukan kepada Allah. Mau bagaimana lagi kalau tidak dengan kemanusiaan yang adil dan beradab toh? Ini sudah dipikirkan founding fathers bangsa ini, tetapi ada pihak-pihak yang mau merusak pondasi bangsa ini demi ajaran sesatnya yang diimpor entah dari mana.

Sebelum membanggakan diri sebagai orang beragama, mbok ya jadi manusia dululah. Saya kira itulah juga pesan Natal: Sabda men(jadi) daging. Amin.


HARI KEENAM OKTAF NATAL
Sabtu, 30 Desember 2017

1Yoh 2,12-17
Luk 2,36-40

Posting 2015: Namanya Amaryllis bellavedova
Posting 2014: Kesalehan yang Gak Narsis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s