Mendidik Anak Allah

Mari belajar agama sebentar. Dulu di Israel (bukan yang sekarang disebut Israel tentunya), ada dua ritus yang dilakukan orang Yahudi kalau seorang perempuan melahirkan anak. Pertama, ritus penyucian mahmudnya yang berdarah-darah. Orang dulu beranggapan bahwa darah itu berkaitan dengan negativitas kosmos ini, maka perempuan yang berdarah itu mesti diimunisasi [yo dah terlambat ya?] dari kekuatan jahat itu. Kedua, ritus tebusan anak sulung. Dalam Taurat konon ada ayat yang mewajibkan anak pertama dari hewan piaraan dipersembahkan kepada Tuhan sebagai tanda syukur. Piye jal mosok orang mesti menyembelih anak sulungnya? Maka, dicari gantinya. Yang kaya mengurbankan kambing, yang tidak kaya sepasang burung merpati [sakno apa gak patah hati ya, oh malah sehidup semati ding].

Itulah dua ritus yang diacu oleh penulis Lukas dalam bacaan hari ini. Lima kali Lukas menyisipkan frase ‘menurut hukum Tuhan’ dan karenanya bolehlah pesan pertama hari ini ditarik dari situ: acuan keluarga baru bukan gengsi bermotif ekonomis atau strategi politik, melainkan hukum ilahi sendiri. Maka pilihan-pilihan untuk bikin rumah, beli kendaraan, menentukan sekolah, dan sebagainya, perlu disinkronkan dengan jawaban pertanyaan: apa yang kiranya diinginkan Allah dalam hidup keluargaku ini? Tentu saran dan pertimbangan dari luar tak perlu diharamkan, tetapi pada akhirnya yang menjadi penentu adalah parola di Dio [eaaa balik lagi].

Pesan kedua bisa diambil dari kalimat awal teks hari ini: mempersembahkan anak kepada Tuhan. Mangsudnya? Anda mungkin memikirkan anak yang baru lahir sebagai suatu paten, ‘hak kekayaan intelektual’ ortunya, tetapi mungkin Anda lupakan bahwa Anda tidak mengutak-atik kromosom anak baru, Anda tak berkutik pada Semesta yang bekerja. Dalam bahasa religius, anak bukan hak paten ortu. Dia adalah hak paten Semesta, milik Allah, Penguasa Semesta, anak Allah. 

Anak baru itu dipasrahkan kepada ortu supaya ditempatkan dalam proyek yang cocok dengan hukum ilahi tadi, bukan dalam proyek ortu, kakek-nenek, keluarga besar, dan seterusnya. Itulah mempersembahkan anak kepada Tuhan: apa yang kiranya diinginkan Tuhan bagi anak ini? Ini kiranya lebih memerdekakan daripada ortu sibuk menentukan apa yang harus ditempuh anak, seakan-akan anak jadi proyeksi ambisi ortu lebih daripada proyeksi rencana Semesta. Sang anak sendiri kelak akan menemukan kebahagiaannya karena ia berada di jalur’nya’ sendiri, bukan jalur ortunya.

Maka tugas ortu bukanlah merancangkan google map anaknya, melainkan membantu supaya anaknya mampu menemukan roadmapnya sendiri. Tugas ortu bukan pertama-tama mengajari aneka ritus religius (bikin tanda salib, doa sebelum dan sesudah makan, dan sejenisnya), melainkan sungguh mempersembahkan si anak supaya kapasitas radarnya berkembang untuk menangkap kehendak Allah. Kapasitas radar itu tidak diperoleh dari ritus agama (apapun), tetapi dari hati yang terasah, terarah kepada Allah melalui kemanusiaan (yang adil dan beradab, halah).

Pesan ketiga kiranya bisa ditangkap dari hewan kurban yang dibuat keluarga Nazaret: sepasang merpati. Artinya? Mereka merepresentasikan keluarga yang tidak kaya. So? Tentu bukan bahwa orang beriman harus miskin, gile aje lu. Allah hadir tidak melalui dominasi kekuatan ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Silakan dilanjutkan sendiri dengan renungan. Tiga pesan saja ya, sudah hampir 500 kata nih.


PESTA KELUARGA KUDUS: YESUS, MARIA, YOSEF
(Hari Ketujuh dalam Oktaf Natal Tahun B)
Minggu, 31 Desember 2017

Kej 15,1-6;21,1-3
Ibr 11,8.11-12.17-19
Luk 2,22-40

Posting Tahun 2014: Kiblat Hidup Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s