Risiko Senyum

Kemarin, setelah kunjungan ke biara Fransiskan di Assisi, peserta ziarah mesti memilih untuk mengunjungi gereja Santa Klara atau gereja Maria Santa Para Malaikat. Pilihan jatuh pada yang kedua karena untuk yang pertama mesti berjalan kaki padahal jalannya menanjak, sedangkan untuk yang kedua para peziarah mesti naik bus. Bisa dimaklumi, karena peserta ziarahnya punya rentang usia dari lima tahun sampai 75 tahun dengan berbagai koleksi penyakit dan obatnya. Jebulnya, hari ini adalah peringatan Santa Klara itu.

Santa Klara menawarkan berkat yang boleh dimohon oleh setiap orang beriman untuk melihat Allah dalam setiap kenyataan hidup, bahkan kenyataan hidup tergelap: mengambil risiko. Risiko bagaimana? Risiko menyeberangi dunia dengan senyuman yang asalnya dari kesadaran berpartisipasi dalam proyek keselamatan Allah. Ini bukan senyuman ala selfie atau wefie yang kerap kali bertolak belakang dengan apa yang senyatanya bergejolak dalam diri orang. Ini senyuman hati yang membuat hidup orang jadi begitu ringan meskipun bebannya tampak tak tertahankan.

Santa Klara, dengan inspirasi yang juga diperoleh Fransiskus dari Assisi, sadar bahwa hidupnya tak pernah bisa didominasi oleh bayangan kematian dan kematian itu adalah saudara yang berjalan bersama. Dengan kesadaran macam begini, orang beriman justru terbebaskan dari ketakutan akan kematian, bukan karena putus harapan atau frustrasi ala lèlèh luwèh, melainkan karena memeluk kematian itu membuat orang tak pernah melekat pada hiruk pikuk dunia ini (meskipun terlibat di sana).

Lah, itu kan orang-orang kudus, Mo.
Haiya sableng, mereka itu disebut orang kudus karena sudah mati, dikanonisasi Gereja Katolik. Artinya, mereka itu yang orang biasa saja, tetapi karena kesaksian hidup mereka yang seperti itu lalu diberi label orang kudus, bukan sebaliknya (orang kudus dulu baru bisa melakukan hal-hal itu)!

Ya Allah, mohon rahmat keberanian untuk mengambil risiko sehingga cinta-Mu dapat terwujud dalam hidup sehari-hari kami. Amin.


PERINGATAN WAJIB S. KLARA
(Sabtu Biasa XVIII B/2)
11 Agustus 2018

Hab 1,12-2,4
Mat 17,14-20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s