Ziarah Tak Kunjung Usai

Ini hari terakhir ziarah, dan kerisauan saya tidak hilang, kerisauan akan ironi kehidupan yang bersentuhan dengan hidup beragama. Nabi anu membuat orang lain, para pengikutnya, terinspirasi untuk membangun komunitas tertentu, yang disebut agama, dan komunitas itu melakukan hal-hal yang justru hendak ditentang oleh nabi anu tadi. Ada banyak contohnya, tetapi saya teringat akan cerita seorang manajer hotel di wilayah Israel yang mesti pontang-panting membawa seorang anak ke rumah sakit untuk mengatasi pendarahan hebat di kepalanya karena terjatuh.

Itu terjadi pada hari yang diparalelkan dengan hari Allah beristirahat. Untuk menghormati Allah yang berhenti bekerja itu, orang-orang beragama anu itu tidak melakukan pekerjaan apapun. Ironisnya, mereka bisa mengatur sedemikian rupa sehingga orang lain atau hal lainlah yang bekerja. Misalnya, pada hari tanpa kerja itu, mereka tetap menggunakan lift yang senantiasa naik langsung ke lantai atas lalu turun satu per satu ke lantai di bawahnya dan buka tutup pintu otomatis tanpa perlu orang menekan tombol. Yang bekerja lift, bukan jari orang yang menghormati hari istirahat itu.

Begitulah. Seorang anak yang mengalami pendarahan ini tidak diurus oleh orang tuanya. Ibunya berteriak-teriak minta tolong dan datang ke suaminya yang berada di ruangan doa. Ketika diberitahu istrinya supaya membawa anaknya ke rumah sakit, sang suami angkat tangan: sedang berdoa, tak boleh bekerja, tak boleh memesan taksi, tak boleh menggunakan kartu telpon, dan bla bla bla lainnya. Pokoknya, akhirnya manajer hotellah, yang rupanya tak seagama dengan keluarga anak yang sakit tadi, yang dianggap najis, yang pontang-panting membawa anak itu ke rumah sakit.

Maksud hati menghormati Allah yang berhenti bekerja, tapi apa daya, penghormatan itu justru melawan kemanusiaan yang hendak diwujudkan oleh Allah yang dianggap berhenti bekerja itu. Apakah itu cuma terjadi pada satu agama? Tidak. Dalam agama manajer hotel tadi juga terjadi ironi serupa. Manusia menjadi tuan atas hari istirahat tadi, dan karenanya orang ada dalam bahaya untuk menjadi segala-galanya seolah-olah tiada lagi Tuhan yang mengatasi keterbatasan manusia.

Santo Laurensius yang dipestakan Gereja Katolik hari ini adalah tokoh Gereja pada abad III yang kesaksiannya begitu kuat akan identifikasi Gereja dengan kaum miskin, tetapi lama-kelamaan Gereja sendiri berleha-leha dengan kenyamanan. Bisa jadi, institusi yang mengenakan nama Laurensius tidak lagi memiliki orang-orang miskin sebagai harta kekayaan Gereja. Saya tak sempat pergi ke Basilika San Lorenzo ini, tetapi untuk menunjukkan ironi itu tentu tak perlu membatasi diri pada bangunan gereja San Lorenzo. 

Dalam diri setiap orang beragama tersimpan ironi itu karena pada akhirnya, kemegahan gereja, kebesaran bangunan hanyalah cerminan dari apa yang ada dalam perasaan, pikiran, dan kehendak orang sendiri. Santo Laurensius mengingatkan umat beragama bahwa kekuatan orang terletak pada realisasinya dalam memberdayakan yang lemah. Tak heran bahwa harta karun Gereja yang digembar-gemborkannya bukanlah emas, karya seni atau hiasan bangunan gereja, melainkan perhatian terhadap mereka yang tersingkir dari kancah kehidupan manusiawi.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk keluar dari kenyamanan hidup kami supaya semakin banyak orang memuliakan nama-Mu. Amin.


PESTA ST. LAURENSIUS
(Jumat Biasa XVIII B/2)
10 Agustus 2018

2Kor 9,6-10
Yoh 12,24-26

Posting 2017: Berkat Lorenzo
Posting 2016: Yakin dengan Pilihanmu?

Posting 2015: Ikhlaskanlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s