Batu Berhala

Kisah dalam teks bacaan hari ini punya setting tempat yang kemarin saya foto begini:

Di situ ada batu karang yang diberi tali pembatas, dan di situlah dipercaya Petrus menyatakan pengakuan kepada guru dari Nazareth sebagai Mesias dan orang Katolik memercayainya sebagai momen Petrus ditunyuk sebagai landasan Gereja. Guide mengundang peziarah untuk menyentuh batu itu dan minta berkat. Lalu saya teringat film PK yang mengkritik praktik agama sebagai agen produsen ketakutan dengan ritualnya.

Betul juga, seluruh spot ziarah adalah spot bisnis, maka perlu dilestarikan, bahkan yang melestarikannya tidak harus memiliki kepercayaan terhadap content dari objek ziarah itu. Di situ sebetulnya ada sebangsa penjajahan spiritual. Tempat asal ‘agama dunia’ mendapat keuntungan berlimpah ruah bahkan meskipun bangsanya tak menghayati roh ‘agama dunia’ itu. Undangan guide untuk menyentuh objek ini itu adalah bagian dari bisnis yang bisa menjadi trigger ketakutan orang: orang beragama merasa harus menyentuhnya, orang beragama berpikir bahwa berkat itu datang dari objek yang disentuhnya.

Menyentuh batu karang itu bagi saya adalah suatu upaya kecil untuk connect dengan kenyataan konkret kerasnya batu karang dan ingatan akan wacana yang disodorkan guru dari Nazareth: kalau orang membangun rumah dengan dasar pasir, tentu rapuh sekali. [Btw, guru dari Nazareth itu bukan anak tukang kayu, melainkan anak tukang bangunan. Tak mengherankan metafora yang dipakainya banyak berkenaan dengan bangunan, bukan perkayuan.] Maka, bagi saya, tak penting lagi apakah batu karang yang saya sentuh adalah situs tempat guru dari Nazareth berdialog dengan Petrus, apakah posisi Petrus di spot yang lebih tinggi atau rendah, apakah mereka menghadap danau, dan bla bla bla.

Berkat yang saya mohon saat merasakan kerasnya batu karang itu ialah rahmat kepenuhan roh yang memampukan saya untuk membuat sambungan antara pikiran, kata, dan perbuatan. Saya tak menempatkan diri sebagai seorang imam Katolik, tetapi sebagai pribadi rapuh yang percaya bahwa Allah yang mahabesar itu sungguh hadir begitu konkret dalam dunia sekaligus mohon rahmat supaya mampu mempersaksikan kehadiran Allah dalam hidup saya. Tanpa rahmat itu, saya kira, peziarah seperti saya bisa jatuh dalam idolatri, penyembahan berhala, yang disinggung Paus Fransiskus pada audiensi kemarin siang.

L’idolo ha la bocca ma non parla. Inspirasinya dari teks Perjanjian Lama saat Bangsa Israel menunggu Musa naik Gunung Sinai untuk menerima Taurat Allah. Mereka tak sabar dan meminta wakil Musa untuk membuat berhala emas, binatang yang punya mulut, tapi tak bisa bicara sebagaimana Allah yang senantiasa bersabda. Allah yang saya imani, bukan Allah yang identik dengan tulisan atau batu, melainkan dengan pribadi yang bersabda dalam hati setiap orang, yang untuk membongkarnya perlu dikomunikasikan dalam relasi dengan sesama juga. 

Kalau begitu, tak bisalah saya berpikir bahwa kalau yang saya hayati benar, lantas yang dihayati orang lain tidak benar. Dengan begitu, berpikir sebagai pemilik kebenaran tunggal takkan sinkron dengan pengakuan Allah yang senantiasa-bersabda itu. Itu malah bertendensi menyuburkan idolatri. Berhalanya bukan lagi batu, melainkan pikiran orang sendiri.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami tak berkeras hati di hadapan-Mu dan sesama. Amin.


KAMIS BIASA XVIII B/2
9 Agustus 2018

Yer 31,31-34
Mat 16,13-23

Kamis Biasa XVIII C/2 2016: Balikin KTP Gue
Kamis Biasa XVIII A/2 2014: Bisnis Hangat, Keluarga Dingin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s