Berkat Lorenzo

Beberapa tahun sebelum krisis moneter akhir tahun 90-an, saya pernah diminta melatih sekitar 50-an siswa untuk bermeditasi. Saya dijemput dan diantar ke kompleks sekolah yang sangat luas dan masih kempling di sebelah barat kota Jakarta, Alam Sutera. Waktu yang disodorkan adalah satu jam, tetapi lebih dari setengah jamnya untuk praktik hening. Setelah selesai dengan pelatihan sederhana itu, saya menerima amplop dan mesti menandatangani tanda terima dan jantung saya hampir mencolot ke leher karena mata saya melihat angka yang fantastis bagi saya. Hampir 1500 kali harga bensin premium saat itu. Uang saku saya hanya 25 kali harga premium (setelah terbiasa menerima uang saku sebanyak 5 kali harga premium saat itu).

Keterkejutan saya tidak terletak pada besaran uang yang saya terima (karena de facto saya cuma jadi kurir dan uang itu berpindah tangan ke bendahara rumah saya). Keterkejutan saya disebabkan oleh apresiasi tinggi terhadap latihan doa yang ‘hanya’ seperti itu, sangat basic dan saya tidak perlu gedabigan alias repot mempersiapkannya (karena dua tahun sebelumnya memang sudah rutin menjalaninya). Menurut saya itu memang lebay, tetapi kenyataannya sekarang ini pun orang mau juga merogoh kocek tak sedikit untuk mengikuti kursus yang disebut yoga atau meditasi. Ya mau gimana, bolehlah saya menyebutnya lebay karena apa yang saya terima secara gratis, sewajarnya saya bagikan juga secara cuma-cuma.

Njuk apa toh hubungan pengalaman itu dengan catatan hari ini? Hubungannya terletak pada nama sekolahan di Alam Sutera itu, yang diberi nama sesuai dengan karakter yang dipestakan Gereja Katolik hari ini: Laurensius. Nama asingnya jadi Lawrence atau Lorenzo pebalap MotoGP. Artinya bisa jadi pohon salam atau kehormatan dan kemenangan. Masih ingat, bukan, pada cerita kartun bagaimana pemenang lomba diberi untaian daun di kepala sebagai penghormatan? Apakah Laurensius ini memang pantas dihormati?

Bacaan hari ini omong soal biji gandum yang mesti mati sebelum ditanam di tanah dan menghasilkan buah. Laurensius adalah salah satu dari tujuh diakon, pelayan umat, yang dipilih para Rasul di Roma. Konon Lorenzo inilah yang passion menonjolnya ada pada orang-orang miskin terpinggirkan. Entah bagaimana, waktu itu saya sedang ke luar kota, Lorenzo dibunuh pada masa kebencian orang-orang Romawi kepada orang-orang Kristiani. Lorenzo dikenal sebagai pribadi yang menunjukkan bahwa harta Gereja adalah orang-orang miskin itu, bukan malah kumpulan kolekte yang memiskinkan orang.

Opsi tanggung jawab terhadap orang miskin ini kiranya merupakan salah satu bentuk kematian biji gandum. Lorenzo mengingatkan orang pada logika penciptaan: yang kaya dilegitimasi untuk menyokong mereka yang miskin, meskipun bukan pertama-tama soal memberi derma. Saya kira tak perlu diributkan kalau orang meyakini bahwa kemakmuran adalah wujud berkat Allah. Problemnya, kebanyakan orang yang meyakini hal itu melupakan sesuatu: kekayaan selalu adalah berkat Allah dan kemiskinan selalu jadi tanggung jawab orang yang mendapat berkat Allah itu.

Ya Allah, semoga kami semakin sadar bahwa berkat rahmat-Mu senantiasa menjadi anugerah gratis dan sekaligus tugas tanggung jawab kami terhadap sesama yang lemah. Amin.


PESTA ST. LAURENSIUS
(Kamis Biasa XVIII)
10 Agustus 2017

2Kor 9,6-10
Yoh 12,24-26

Posting 2016: Yakin dengan Pilihanmu?
Posting 2015: Ikhlaskanlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s