Menyangkal Medsos?

Sebetulnya saya belum ngeh betul dengan padanan frase ‘mengikuti Kristus’ dalam agama atau tradisi non-Kristiani, meskipun saya percaya bahwa dalam setiap agama ada peziarahan iman. Tentu aneh kalau diterjemahkan sebagai ‘mengikuti Allah’; emangnya Dia pergi ke mana? Frase ‘mengikuti Kristus’ itu menuntut orang menangkap keilahian tetapi mesti ada aspek insani yang diikuti, yaitu sosok Yesus dari Nazaret. Sebaliknya, frase ‘mengikuti Kristus’ tidak bisa juga dipadankan dengan meneladan tokoh-tokoh insani seperti manusia Yesus dari Nazaret itu belaka karena mesti ada aspek ilahi yang hendak dihidupinya. Singkatnya, ‘mengikuti Kristus’ tidak identik dengan ikut disalibkan atau berambut panjang atau berpuasa 40 hari 40 malam atau apa saja yang berbau-bau keinsanan Yesus dari Nazaret itu.

Hmm… apa ya yang kiranya memuat aspek ilahi dan insani, yang berterima bagi semua agama atau tradisi religius? Saya kira ya Sabda Allah itu. Di situ ada unsur insani sekaligus ilahi. Insaninya adalah tulisannya sendiri yang mesti ditangkap dalam konteks jasmani (orang-orangnya, tanahnya, zamannya, hukum-hukum naturalnya). Ilahinya adalah roh yang mengiringi orang yang menangkap Sabda Allah itu tadi; dan roh ini selalu dalam arti daya-daya jiwa yang menghidupkan manusia, bukan roh yang bikin bulu kuduk berdiri karena takut. Di situ Yesus dari Nazaret bagi orang Kristiani bisa masuk dan segala Kitab (yang beneran) Suci agama bisa diterima.

Kalau begitu, mengikuti Sabda Allah jadi frase yang lebih universal daripada ‘mengikuti Kristus’. Menimbang bacaan hari ini, mungkin bisa juga dibuat kalimat lain: setiap orang yang hendak mengikuti Sabda Allah, ia mesti menyangkal dirinya.
Kok terdengar kejam ya, seolah-olah Sabda Allah itu mesti bertentangan dengan diri orang yang hendak mengikuti-Nya? Katanya yang insani tak bertabrakan dengan yang ilahi, katanya semakin rohani semakin material…

Ya apa mau dikata, meskipun tubuh ini bukan penjara jiwa, tetapi de facto ketubuhan orang bisa menipu. Orang bisa tertipu karena keterbatasan sensasi inderawi. Mengira gembira, jebulnya punya ketergantungan. Mengira berjalan di tapak kebenaran, ternyata menindas orang lain. Merasa bebas tanpa ketakutan, kenyataannya membawa teror bagi orang lain. Begitulah, dari momen ke momen orang yang hendak mengikuti Sabda Allah perlu mawas diri apakah ada hal-hal yang perlu disangkalnya supaya Sabda Allah itu jadi autentik: membebaskan, membawa kegembiraan, menumbuhkan, mengembangkan hidup orang.

Kalau mau contoh, ambil saja misalnya mahasiswa yang secara akademis tak punya problem dan malah ngartis sehingga tak kelar-kelar pekerjaannya, bahkan meskipun ngartis itu berbau akademis dengan mengikuti konferensi di sana sini. Menyenangkan, tetapi tak membantunya mewujudkan kedirian yang sesungguhnya sehingga muncul penyesalan di kemudian hari. Di situ dibutuhkan penyangkalan diri dan diri itu bisa saja diperluas dengan medsos, seminar, bisnis, hobi dan sebagainya.

Ya Allah, bantulah kami untuk mengerti pilihan mana saja yang lebih mengarahkan kami pada kemuliaan-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XVIII A/1
Pesta S. Klara
11 Agustus 2017

Ul 4,32-40
Mat 16,24-48

Jumat Biasa XVIII C/2 2016: Chickens Love You
Jumat Biasa XVIII B/1 2015: Kenapa Gairah Melemah?
Jumat Biasa XVIII A/2 2014: Hidup Kok Serba Nyaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s