Chickens Love You

Mereka yang mengobral kata love-sayang-cinta tapi pelit tindak pengorbanan adalah pelawak ulung dalam hidup ini. Bisa jadi hidup mereka tak lebih baik daripada anak-anak ayam seperti diungkapkan meme ini:

chicken love
Tak sedikit orang, apalagi yang kasmaran, mengira bahwa cinta itu manis-manis krinyis-krinyis enak abis. Orang macam ini belum mempertimbangkan elemen komitmen dalam cinta yang, tak bisa tidak, selama ia menghirup nafas dari dunia fisik ini, menuntut penderitaan. Istilah khas dalam agama Kristen/Katolik adalah crucified love (cinta tersalib). Tak ada Cinta sejati tanpa karakteristik crucified ini. Maka benarlah apa yang dinubuatkan teman masa kecil sewaktu dulu saya masih hidup di dusun: kowe nek dadi wong Kresten mengko matine dipenthang (Kamu kalau jadi orang Kristen kelak matinya disalib). Dia betul meskipun kurang lengkap: bahkan sebelum matipun orang Kresten, alias mereka yang berjalan dalam Cinta, apapun label agamanya, sudah dipenthang atawa disalibkan dengan aneka macam hal seperti bullying, penolakan, fitnah, perkosaan, kekerasan, dan sejenisnya.

Salib selalu ada di mana-mana, tetapi tak semua orang berkehendak memikul atau memanggulnya. Orang lebih concern pada harga dirinya daripada cinta yang tersalib itu; maka jika ada pihak yang mengusik harga dirinya, ia menuntutnya juga ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik, alih-alih mawas diri. Orang lebih gampang mengasosiasikan salib dengan kematian atau kepunahan daripada melihatnya sebagai jalan yang membuka tabir kehidupan.

Minggu lalu beredar komentar pendiri salah satu vihara yang terlalap api di Tanjung Balai. Kurang lebih isinya bahwa ia mengundang orang untuk berterima kasih kepada orang yang membakar vihara karena tempat itu justru jadi ladang untuk menanam karma baik bagi mereka yang hendak membangunnya kembali. Saya bukan penggemar kata ‘karma’, tetapi ide penutur undangan itu klop: salib bukanlah jendela kematian, melainkan pintu pada kehidupan. Salib memberi kehidupan. Itu mengapa Yesus mengusulkan supaya orang memanggul salibnya masing-masing: di situlah orang dapat menemukan kehidupan baru.

Tuturan pendiri vihara itu mengingatkan saya pada pertanyaan murid-murid Yesus tentang anak yang buta sejak lahir. Dalam konsep Yahudi, penyakit begini terkait dengan dosa sehingga dirumuskan pertanyaan: ini dosa dari mana, dari dirinya sendiri (mana mungkin wong sejak lahir sudah buta) atau karma orang tuanya? Jawab Yesus: Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh 9,3 ITB). Dengan kata lain, ngapain ngributin dosa atau karma: dalam Cinta yang tersalib itu mesti kita nyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah. 

Tuhan, mohon kekuatan untuk menyatakan cinta-Mu juga dalam aneka penderitaan hidup kami. Amin.


JUMAT BIASA XVIII
5 Agustus 2016

Nah 1,15;2,2;3,1-3.6-7
Mat 16,24-28

Posting Jumat Biasa XVIII B/1 Tahun 2015: Kenapa Gairah Melemah
Posting Jumat Biasa XVIII Tahun 2014: Hidup Kok Serba Nyaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s