Lift

Saya mudah mengerti kalau anak milenial tergila-gila dengan medsos di hapenya sedemikian rupa sampai tak sadar pada situasi di sekelilingnya. Saya lebih sulit mengerti apabila orang seumuran saya tergila-gila dengan medsos di hapenya sedemikian rupa sampai tak sadar pada situasi di sekelilingnya. Itulah yang membuat saya geleng-geleng kepala melihat perilaku seseorang di sebuah lift di Indonesia kemarin. Masuknya bersamaan dengan saya dan tak ada orang lain dalam lift. Saya tekan tombol lantai yang hendak saya tuju, dan saya agak heran bahwa beliaunya mojok ke sudut belakang dan tak begitu peduli dengan tombol lift.

Ketika lift berhenti di lantai berikutnya dan banyak orang masuk, barulah beliau mendesak-desak untuk menekan tombol lantai yang (mungkin hendak ditujunya). Setelah itu sepertinya beliau kembali sibuk dengan hapenya. Pada saat pintu lift terbuka di lantai yang (mungkin) hendak ditujunya, orang-orang hanya saling berpandangan karena tak ada yang bergerak keluar. Mereka tahu siapa yang menekan tombol lantai tempat kami berada ini tetapi cuma bertanya siapa yang mau ke lantai satu, dan saya sambil geleng-geleng, omong cukup keras,”Lantai satu, Mbak!” Mbak-mbak itu mencabut tatapan mata dari hapenya dan tergopoh-gopoh mendesak-desak orang lain untuk keluar dari lift. Memang ada permintaan maaf, tetapi itu tak membuat leher saya kaku sehingga masih bisa geleng-geleng.

Melihat saya geleng-geleng, seorang penumpang lift berkomentar,”Tadi waktu ke lantai atas juga begitu kok, Pak.” Wah wah wah… untunglah saya cuma geleng-geleng kepala mengungkapkan keheranan saya dan emosinya berupa petunjuk lantai berupa suara. Sekurang-kurangnya saya sudah mengamalkan nasihat Yakobus dalam teks bacaan hari ini😂: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Mungkin sebetulnya saya bisa lebih halus menyampaikan informasi kepada mbak-mbak itu,”Mbak, ini sudah sampai lantai satu. Apakah Mbak tadi tekan tombol lantai satu?” tetapi mestinya pada saat kalimat itu selesai, lift sudah tiba di basement. Jadi, lebih baik kiranya saya bersuara keras tadi #halahdibahas, Rom.

Barangkali memang untuk setiap orang ada tahapannya dalam mendengar, dalam menyimak, dalam bertindak. Itu pula yang dikisahkan dalam bacaan kedua hari ini. Orang yang buta itu sembuh melalui tahapan, dan tahapan itu terjadi ketika ia disendirikan dari kerumunan orang banyak dan mengalami relasi pribadi dengan yang menyembuhkannya.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya pengindraan kami semakin peka dan terarah pada kasih-Mu kepada seluruh makhluk. Amin.


RABU BIASA VI A/2
19 Februari 2020

Yak 1,19-27
Mrk 8,22-26

Posting Tahun A/2 2014: Dengarkan Dulu!

2 replies

  1. Tumben ilustrasi renungannya enteng dicerna nih hari Mo, but still hits the button as usual. Intinya penguasaan diri (terutama ego & mulut) ya Mo. Maunya selalu bisa gitu sih tp kadang kita terkesan jadi kayak org oon yg mau ‘terlecehkan’ hiiks🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s