New Cadar

Acara nobar film lawas semalam kami ganti dengan ngobar alias ngobrol bareng, yang semestinya bisa juga diisi dengan ngopi bareng jika dilakukan di warkop. Apa daya, kami ngobrolnya di tempat kami biasa berdoa. Tema besar obrolan kami ialah ‘memaknai new normal‘ dan karena ini ngobar ya bisa ngalor ngidul topiknya. Saya tidak hendak membocorkan isi obrolan kami tetapi menghubungkan pemaknaan new normal itu dengan teks bacaan hari ini dan teks yang saya terima kemarin.

Teks yang saya terima kemarin berupa narasi tentang seorang wanita bercadar yang motifnya murni perkara rasa aman, bukan perkara memenuhi perintah agama, dan dengan demikian, sama sekali tidak untuk unjuk gigi (lha wong bercadar) bahwa ia lebih baik dari siapa pun di muka bumi ini. Jelas di situ, cadar tidak bermakna tunggal dan pada dirinya sendiri cadar tak lebih dari penutup badan dengan celah pada area mata pemakainya. Repotnya kan busana itu dimanfaatkan teroris sehingga orang naif membalik logika: bercadar berarti teroris, fanatik, fundamental, dan sejenisnya.

Nah, celakanya, orang beragama pun tidak sedikit yang naif, yang hobi membolak-balik logika seperti itu. Teks bacaan kedua hari ini menyodorkan pertanyaan Guru dari Nazaret terhadap apa yang diajarkan oleh pribadi nanggung kepada orang-orang Yahudi. Kemarin sudah saya singgung bagaimana ahli Taurat hendak menjebak Guru dari Nazareth dan malah balik disindir sebagai pribadi kentang (kena tanggung) bin kagol yang tidak tuntas menindaklanjuti teori yang baik-baik. Hari ini Guru dari Nazareth menunjukkan bagaimana tanggungnya mereka mengajar orang-orang Israel. 

Ahli Taurat itu mengajarkan bahwa Mesias adalah anak Daud. Titik. Maksudnya, Mesias itu keturunan Daud. Dah gitu aja, gak ada tambahan lain sehingga referensi orang banyak hanya pada sosok Daud berikut kehebatannya. Akibatnya, orang naif berpikir bahwa Mesias itu mestilah sosok hebat seperti Daud yang telah memerintah Israel dengan gemilang sekian lama dan melahirkan penerusnya yang hebat pula. Paham seperti itulah yang melekat di kepala bangsa Israel, karena ada teks Kitab Suci lainnya yang tidak disampaikan oleh anak-anak kentang itu.

Guru dari Nazareth menyitir teks lain dari Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Mesias itu tak bisa dianalogikan seperti Daud semata. Ia lebih besar dari Daud, lha wong dalam teks lain dikatakan bahwa Daud sendiri menyebutnya sebagai master (meskipun tidak lulus S2). Bagaimana mungkin Mesias ini jadi anak Daud? Dia ya mesti lebih besar dari anak Daud dong! Sebagian besar orang Yahudi memang memahami Mesias sebagai sosok seperti Daud yang berkuasa secara politik untuk menundukkan bangsa-bangsa lain. Tentu ada orang Yahudi yang akhirnya juga menangkap maksud Guru dari Nazareth ini.

Yang menangkap perkataan Guru dari Nazareth itu seperti wanita dengan new cadar tadi: tidak mempersempit hidup ini sebagai perkara doktrin agama, yang kadang diselewengkan oleh pemegang kekuasaan religius. Pribadi seperti ini malah memiliki keterbukaan yang memungkinkanperjumpaan dengan Allah yang tak pernah bisa dipaksakan pada lokasi atau momen tertentu. New normal, dengan demikian justru adalah perkara membongkar kebiasaan lama yang tak relevan dan membangun kenormalan yang relevan. Tolok ukur normalnya apa? Ya apalagi kalau bukan kebahagiaan sejati, lha wong itu yang dicari orang sejak zaman jebot sampai kiamat?

Kalau ditarik dalam ranah agama, new normal berarti ya cara baru untuk menghidupi agama. Kalau dulu cuma ngerti satu agama, sekarang ngerti lebih dari satu agama tanpa berarti tercabut dari agama normalnya. Yang Islam semakin Islam justru karena mengenal agama lain. Yang Kristen semakin Kristen justru karena belajar dari agama lain. Begitu seterusnya. Tentu, kejujuran diandaikan dalam proses ini sebagai jalan pencarian atau peziarahan. 

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami semakin mengenali-Mu juga dalam perjumpaan kami dengan (agama) yang lain. Amin.


Jumat Biasa IX A/2
Pw. S. Bonifasius
5 Juni 2020

2Tim 3,10-17
Mrk 12,35-37

5 replies

  1. Berarti org itu belum merdeka, krn menganggap mns lain adh homo homini lupus. Paranoid sblm waktunya, atau mmg sudah waktunya paranoid.
    tanya kenapa…

    Like

  2. off the record, omong2 banyak juga “mengerti” agama isl dari CP als Christian Prince. jadi apakah pengertian mengenal, bisa menjadi sampai pada meninggalkan bila bersikap jujur? kecuali kalau kita menjadi ignorant dan berpegang mati pada agama
    tp bagaimana menyikapinya, i believe therefore i’m right, untuk menyikapi post truth, sehingga i’m right tidak jatuh pada kekeliruan,
    karena OMK sekarang yang lebih millenial, menganggap, mau agama apa sama saja, haha

    Like

    • Kiranya “I am right” tidak identik dengan “They are wrong”. Aneka ungkapan OMK masih bisa ditelusuri pengertiannya: apa artinya ‘semua agama sama’, dan apa maksudnya ‘tidak sama’. Poinnya, bisa didialogkan, kalau orang memang mau bertanggung jawab atas argumennya. Tetapi beriman kiranya juga bukan perkara berargumen, melainkan perkara koneksi. Kalau orang memang sungguh bisa connect dng Allah secara jujur lewat ciptaan-Nya sendiri, why not?

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s