Pribadi Nanggung

Apa indahnya hidup tanpa pengampunan? Barangkali seindah pelaksanaan hukum rimba, yang dipertontonkan film Run All Night yang kami tonton semalam. Dua sosok ayah yang berteman sejak lama, yang sama-sama mencintai anak lelaki mereka (yang sama-sama tak menyukai ayah mereka), akhirnya sama-sama tewas. Tentu, hanya sebagian kecil saja hidup orang yang sama dengan apa yang terjadi dalam film itu. Akan tetapi, itu hanya perkara teknis kematian mereka. Pada prinsipnya, hidup tanpa pengampunan itu bisa menghantui siapa saja.

Teks hari ini bicara mengenai prinsip utama yang memungkinkan pengampunan terjadi, yaitu cinta yang terwujud dalam integritas pribadi, bukan cinta yang diwacanakan, bukan cinta yang dituliskan dalam blog ini, bukan cinta yang dihafalkan, dibiasakan, dilegalkan, dan seterusnya. Ini adalah cinta yang sungguh hidup dalam diri orang, sejauh dia punya integritas tadi. Persis itulah yang tidak dipunyai para ahli Taurat yang hendak mempecundangi Guru dari Nazareth dengan pertanyaannya mengenai hukum.

Saya punya teman mancanegara, seorang ahli hukum, yang begitu antusias dengan studi yang dijalaninya. Ia tak beristri, tak beranak, dan seluruh hidupnya dicurahkannya pada pernik-pernik hukum yang dipelajarinya itu. Salah satu hal yang mengesankan darinya ialah kegembiraannya dalam mempelajari hukum itu dan visinya yang membuat dia menggebu-gebu. Ini suatu visi yang bertolak belakang dengan visi ahli Taurat yang berniat menjebak Guru dari Nazareth itu. Tahukah Anda visi teman saya ini? Harusnya ya tidaklah, kecuali kalau teman saya itu adalah teman Anda.

Dia bangga dan senang dengan studi hukumnya karena, menurut dia, dengan pengetahuan utuh mengenai hukum itu, ia bisa membantu orang-orang sederhana yang mengalami kesulitan untuk keluar dari persoalan hidupnya! Teman saya ini memang mulia. Saya tidak tahu dia pasang tarif berapa, tetapi tampaknya, kegembiraannya mempelajari hukum dan upayanya membantu orang lain yang kesulitan dengan persoalan hidupnya berkenaan dengan hukum itu sudah cukup jadi upah minimumnya.

Kemuliaan ahli hukum dengan integritas seperti itu saya kira agak langka. Saya punya pengalaman jelek mengenai hal itu di negeri tercinta ini karena wajah ahli Taurat tampaknya lebih umum: pribadi tanpa integritas yang pilihan dan keputusan hidupnya ditentukan oleh seberapa banyak uang yang diterimanya atau seberapa banyak gratifikasi yang bisa diperolehnya. Dalam pribadi-pribadi nanggung seperti inilah roh survival of the fittest subur. Pribadi nanggung ini oleh Guru dari Nazareth diberi kalimat hiburan,”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Pribadi nanggung tentu bukan privilese ahli Taurat. Anda dan saya bisa jadi adalah pribadi nanggung itu: teori komplet, tahap aksinya tidak jauh lagi bisa dituntaskan, tetapi tetap saja tidak dituntaskan. Kadang bisa terjadi, misalnya dalam masa menyepi, retret, PSBB, momen-momen terakhir yang sebetulnya tidak berbeda dari momen sebelumnya, orang kehilangan kesabaran dan kesetiaan menanggung kesusahan sehingga yang sebetulnya tinggal sedikit lagi tuntas jadi tidak tuntas. Nanggung

Tuhan, mohon rahmat keteguhan hati supaya kami boleh jadi pribadi yang punya integritas. Amin.


KAMIS BIASA IX A/2
4 Juni 2020

2Tim 2,8-15
Mrk 12,28b-34

Kamis Biasa IX B/2 2018: Berantas Kebodohan
Kamis Biasa IX A/1 2017: Hai Penista

Kamis Biasa IX C/2 2016: Tak Ada Tuhan dalam Liturgi
Kamis Biasa IX B/1 2015: Untuk Apa Ritual?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s