Saya tidak heran jika survei menunjukkan tingkat korupsi suatu negara berbanding lurus dengan ciri pendidikan agamais (bentuk baku agamis). Maksudnya, semakin suatu negara menunjukkan ciri keagamaannya, menganggap agama sebagai komponen terpenting, semakin besar pula potensi korupnya dan mungkin semakin besar pula tingkat korupsi di segala level. Penjelasannya sederhana. Agama menyediakan otoritas absolut yang diistilahkan misalnya dengan kata Tuhan. Apa saja yang diembel-embeli Tuhan njuk seakan-akan tak bisa lagi dikritisi. Akibatnya, jika ada pemuka agama omong A, orang yang pendidikan agamaisnya tak memadai (ini juga bisa dipersoalkan kriteria memadai tidaknya bagaimana), akan menangkap bahwa A itu benar; seakan lupa bahwa yang omong A itu bukan Tuhan.
Akibatnya, aneka istilah keagamaan bisa dipakai untuk kepentingan lain dan khalayak tetap mengarahkan tatapannya bahwa A itu benar dan mesti diperjuangkan bahkan sampai mati. Seiring dengan itu, A tidak perlu dikritisi, tak perlu dipantau, tak perlu dicek, tak perlu transparansi, tak perlu dibongkar ideologinya, dan seterusnya.
Kalau pendidikan agamais seseorang mendalam, ia tak lagi mengutamakan identitas agama karena identitas agamanya itu ada dalam tindakannya yang transparan, bersifat publik, terbuka terhadap kritik. Dengan begitu, ia tetap bertekun dalam keutamaan agamanya, tetapi tak memandang dunia semata-mata dari perspektif agamanya sendiri. Ia tetap menghayati kekayaan nilai agamanya, tetapi tak lagi mengambil kesimpulan secara deduktif semata (berangkat dari dogma agamanya sendiri dan menafsirkannya sedemikian rupa untuk menghakimi aneka kenyataaan hidup). Bagi orang-orang seperti ini, transparansi perkara publik adalah transparansi di hadapan Tuhannya. Maka, persoalan-persoalan publik inilah yang dipikirkannya dengan kaidah-kaidah publik dan ikhtiarnya untuk mengatasi perkara publik itu dimotivasi dan ditujukannya semata-mata untuk kemuliaan Tuhan(nya), bukan lagi agamanya semata.
Kebodohan dalam pendidikan agamais (yang tampak dalam keyakinan absolut mengenai agamanya sendiri) adalah makanan empuk koruptor, apa dan di mana pun lahannya. Kebodohan yang sepaket dengan ketaatan agamais itu lebih empuk lagi, bisa jadi mesin pembunuh.
Apa mau dikata; agama memang bukan perkara gampang meskipun kerap ‘digampangkan’ alias dianggap gampang (kasih duit aja yang banyak ntar juga pemuka agamanya klepek-klepek).
Teks bacaan hari ini bisa jadi menegaskan tidak mudahnya agama, yang tak mungkin dihidupi sebagai bystander, penonton, bahkan pengikut sekalipun. Orang mesti nyemplung, terlibat dengan kata dan tindakan. Kata Ulrich Luz, “Harapan yang terkandung dalam Kerajaan Allah tak bisa dimengerti dalam ruang tunggu mewah, tidak juga di sofa nan empuk. Bahkan, perumpamaan tentang Kerajaan Allah pun tak bisa dimengerti hanya lewat tafsir.”
Teman saya, sudah jadi seorang profesor filsafat, membagikan pengalaman kuliah filsafatnya dulu ketika masih muda. Ngantukan orangnya, apalagi pas kuliah di kelas. Entah malam sebelumnya ia ikut ronda atau nonton wayang semalam suntuk, sebelum perkuliahan dimulai, ia duduk di bangku terdepan. Alasannya jelas: dosen tak akan memperhatikannya karena biasanya sapuan mata dosennya yang tinggi itu ke arah tengah kelas. Akan tetapi, pagi itu rupanya sang dosen mengamati teman saya ini yang terkantuk-kantuk di deretan depan. “Saya belum mulai menjelaskan apa-apa, tetapi Anda sudah mengangguk-angguk?”
Bisa jadi, baik orang beragama maupun tidak, punya sikap seperti teman saya yang profesor itu, belum dijelaskan apa-apa tapi sudah mengangguk-angguk. Wkwkwkwk…..
Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami semakin dapat memilah-milah nilai Kerajaan-Mu yang pantas kami hidupi dalam untung dan malang. Amin.
MINGGU BIASA XVII A/1
30 Juli 2023
1Raj 3,5.7-12
Rm 8,28-30
Mat 13,44-52
Posting 2020: Di Balik Pandemi
Posting 2017: Darma Kehidupan
Posting 2014: Kudatuli, What Do You Seek in Life?
